Pengalaman Operasi Abses Vulva / Kista Bartholin

 Pengalaman ini aku share bagi siapapun yang sedang merasakan atau barusaja divonis dokter untuk operasi atau bahkan yang sedang ragu untuk menjalani operasi abses vulva / kista bartholin. 


Tulisan ini bagi kalian yang sengaja googling "Pengalaman mengalami kista bartholin". Karena sebelum aku memutuskan membuat postingan ini, aku termasuk salah satu orang yang googling untuk sekedar mencari orang di luar sana yang mengalami sama sepertiku. 

***

Semua berawal di tahun 2019. Kala itu posisiku sedang bekerja di luar kota jauh dari orang tua. Entah karena sebab apa, area bagian kiri dekat kemaluan terasa sakit. Bahkan bengkak. Akhirnya kuputuskan bilang ke orang tuaku. 

"Oh itu bisul," kata ibuku sewaktu ku telepon. 

Memang waktu itu kulihat seperti ada nanah yang seolah ingin keluar. Kala itu dibuat jalanpun sakit. Pikiranku langsung bingung terlebih ketika beberapa hari ku obati dengan pereda nyeri tak juga berkurang sakitnya.

Akhirnya ku putuskan untuk pulang ke kampung halaman. Tentu dengan menahan sakit yang tak terkira. Harus menaiki motor dari kos ke parkiran terminal. Naik bis pertama dari Gresik ke Surabaya. Dan aku ingat betul siang itu terik dengan kondisi bus dipenuhi penumpang. Jadilah aku separo perjalanan kira-kira setengah jam berdiri. Jangan ditanya sakitnya kayak gimana. Ku tahan-tahan sampai aku dapat tempat duduk. 

Tapi ternyata ketika dapat tempat duduk pun kegundahan belum usai. Dengan mengatur posisi duduk sedemikian rupa dan berkali-kali, rupanya si sakit ini tetap terasa sekali. Tapi aku harus memaksakan duduk dengan versi yang aman karena tak ingin terlihat orang lain juga. Waktu itu sakitnya masih dalam keadaan bengkak. 

Setelah sampai di terminal bungur Surabaya, singkat cerita perjalanan ku lanjutkan dengan menaiki bus kedua jurusan Jember. Tentu dengan menahan sakit tapi sudah lupa dengan detail kejadian waktu itu. 

Tibalah keesokan harinya akhirnya ku putuskan untuk periksa ke obgyn (ku putuskan ke obgyn karena ku fikir waktu itu letak kista Bartholin yang ada di dekat vagina jadi erat kaitannya sama Obgyn). Setelah dokter memeriksa, aku diresepkan beberapa obat diantaranya pereda nyeri dan antibiotik. Tak ingat betul apa kata dokter waktu itu. Tapi yang aku ingat setelah sehari penuh aku mengkonsumsi, lagi-lagi rasa sakit yang ku rasakan tak kunjung hilang. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk periksa lagi, kali ini ke seorang mantri. Sesampainya sana, dibilang bisul dan harus segera dikeluarkan nanahnya. 

Jadilah dilakukan proses penyayatan dengan mengeluarkan isi nanahnya di tempat praktek mantri. Tentu saja bukan di ruang operasi dan tidak menggunakan alat selengkap di ruang operasi. Rasa sakit bekas sayatan tak dapat dielakkan. Terasa sakit sekali. Namun setelah beberapa hari meminum obat yang diresepkan, rasa sakit yang muncul perlahan hilang.

Sejak kejadian dikeluarkan nanah oleh mantri tersebut aku sudah menganggap bahwa Bartholinku (yang waktu itu aku menyebut bisul) sembuh. Namun dalam rentang sejak kejadian pertama tahun 2019 sampai dengan tahun 2021 sering terasa sakit atau kambuh. Pada tahun 2020 ketika aku menikah pun tidak ada permasalahan. Tibalah pada puncaknya Desember 2021 ketikaku sedang hamil empat bulan.

Aku sering banget ngerasain Bartholinku ini sakit tak tertahankan. Hal yang bisa ku lakukan adalah dengan mengolesi fresh care untuk menghangatkan meredam rasa sakit. Dibuat duduk sakit apalagi berjalan. Ku putuskan untuk periksa di KIA Faskes 1. Sampe sana dilihatlah oleh bidan, responnya langsung kaget. 

"Kok bisa kaya gini ya?" oleh mereka difoto bagian samping v*g*n* yang terdapat bartholin tersebut. Aku dikasih lihat juga (karena sebelumnya aku tak pernah berani melihat secara langsung lewat cermin). Terdapat dua bekas sayatan yang tampak memerah.

"Ini sudah infeksi." kata bidan yang memeriksaku. Kemudian aku dirujuk ke Obgyn, dan ku putuskan untuk memilih dokter kandungan yang biasanya aku kontrol kehamilanku. Singkat cerita, sampai sana dan dilihat oleh dokternya, diapun tak kalah kagetnya dengan bidan tadi.

"Ini dulu tindakannya dimana? Kok tidak rapi. Bahaya lo ini."

Ternyata benar, Bartholinku sudah infeksi dan menjadi abses. Terlebih ketikaku dulu melakukan pembedahan hanya di seorang mantri, hal tersebut tidak dibenarkan. Bekas luka sayatan pun yang dulu tidak ditutup kembali (bisa dibayangin gimana). Dokter kandunganku langsung menjadwalkan operasi dan menyuruhku daftar rawat inap malam itu juga (btw waktu itu aku periksanya malam hari). Aku masih ingat betul, seberesnya periksa, aku bilang ke ibuku ingin makan enak dulu sebelum aku melakukan operasi, haha. Waktu itu aku LDM sama suami jadi kemana-mana diantar orang tua.

Singkat cerita, setelah pergi makan dan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa barang persiapan rawat inap, aku kembali ke rumah sakit tempat aku periksa. Masuklah aku ke IGD, sempat ditawarkan kursi roda tapi aku menolak karena memang bisa berjalan sendiri. Waktu itu sakitnya sudah mereda karena sering ku olesi fresh care dan berendam air hangat. Karena aku hamil, langsung ditangani oleh bidan setempat, pasang infuse dan menjalani serangkaian tes pra operasi termasuk tes swab Covid. 

Sekitar pukul 22.00 WIB, akhirnya sudah sampai di kamar rawat inap. Pada saat itu perasaanku sudah tak karuan antara deg-degan dan takut. Takut kalau-kalau besok waktu operasi dibius total karena sudah terlalu banyak cerita tentang pengalaman bius total. Benar saja, satu jam setelah aku di kamar, tiba-tiba bidan datang lagi dan menyodorkan form operasi yang salah satunya ialah persetujuan perihal bius. Sempat terjadi tawar menawar karena aku kekeuh pingin dibius sebagian aja. Akhirnya di iyakan oleh bidannya. Dari situ perasaanku sudah sedikit tenang akhirnya bisa tidur sampai pagi harinya.

Keesokannya sekitar pukul 07.30, ada perawat yang sudah siap menjemputku menuju ruang operasi. Dengan menaiki kursi roda diantar perawat dan orang tuaku, kami naik menuju lantai atas ruang operasi. Di pintu bagian terluar adalah batas keluarga boleh menunggu. Akhirnya aku seorang diri diantar masuk dari lapis pintu menuju lapis pintu ruang operasi dan ditinggal di salah satu ruangan untuk mencopot semua baju dan perhiasan untuk diganti baju operasi. Di depan pintu ruang operasi paling dalam sudah terasa aura-aura menyeramkan dan dingin. Tapi tak sedikit terdengar juga obrolan dan gurauan para nakes yang bertugas di dalamnya.

Jeng..jeng..jeng.. tibalah giliranku dibawa ke masuk ke salah satu kamar operasi. Di sana aku disuruh baring di ranjang operasi dan dipasang segala alat-alatnya.  Datanglah dokter anestesi menghampiriku. Wanita yang seumuran dengan ibuku mempunyai wajah teduh. Ia menghampiriku sambil membawa jarum suntik besar berisi cairan bius, kemudian berkata. 

"Disuntik anestesi dulu ya, dibius total tapi tak kasih dosis rendah. Biar ga bahaya bagi janinnya."

Seketika agak kaget tapi si dokter rupanya mengetahui kekhawatiranku.

"Nanti pas operasinya selesai sudah langsung hilang kok biusnya.Operasinya ga lama kaya ngeluarin jerawat gitu aja. Paling setengah jam." 

Bersamaan dengan itu, dokter obgynku sudah hadir di ruangan operasi. Dokter anestesi kemudian membimbing berdoa dan menyuruh aku serileks mungkin. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri..

Tiba-tiba aku terbangun sudah dalam posisi mau digeledek keluar ruang operasi. Dalam hati, ha? ini sudah? ternyata bius total yang ku rasakan tidak semenyeramkan cerita orang-orang. Ternyata, semua rasa kesakitan itu baru akan dimulai.

Sekeluarnya dari ruang operasi, aku ditaruh di ruang observasi kurang lebih selama dua jam. Di situlah aku merasakan kalau biusku sudah hilang dan luka bekas operasi sudah mulai berasa sakit minta ampun. Untuk menunggu jam 12 siang rasanya seperti setahun. Aku menahan sakit mulai dari yang meringis-ringis sampai aku nangis beruraian air mata. Tengok kanan kiri hanya orang-orang pasca operasi yang belum sadarkan diri. Akhirnya aku minta tolong ke perawat buat ngambilkan HP dikeluargaku yang menunggu di pintu paling luar. (Entah aku tak tahu waktu itu kok boleh).

Setelah HPnya datang, aku telepon suamiku dengan nangis yang langsung menjadi-jadi menahan sakit. Bayangkan saja, habis operasi dengan luka yang masih menganga dan kondisi bius habis. Sontak suamiku langsung terkaget-kaget. Posisi kami LDM dan lagi di jam kerja. Dia menanyaiku apa operasinya sudah selesai tapi aku hanya bisa menangis,bilang kalau sakit banget. Sehabis teleponnya ku matiin dia bingung telepon ibuku menanyai bagaimana kondisiku yang sebenarnya.

Singkat cerita setelah dua jam di ruang observasi aku dibawa ke kamar. Selang beberapa waktu ada nakes masuk dan menyuntikkan pereda nyeri. Disitulah nyerinya sudah mulai berkurang tapi tetap masih terasa karena toleransiku terhadap rasa sakit rendah. Alhasil, orang tuaku dan bapak ibu mertuaku yang lagi di rumah sakit tersebut bantu mijitin dan menenangkan selama aku kesakitan. Mulai dari siang sampai mendekati maghrib, aku merasakan nyeri yang teramat meskipun sudah diberi pereda nyeri masih saja berasa.

Kemudian, mendekati maghrib ada nakes masuk dan ternyata aku langsung diperbolehkan untuk pulang. Turun dari kasur saja aku kesusahan karena menahan rasa sakit tersebut.Waktu itu aku masih tidak bisa pakai celana dalam dan takut untuk buang air kecil soalnya kan yang dioperasi tempatnya di dekat vagina.

Sepanjang perjalanan pulang selama satu jam lamanya, aku memposisikan diriku tidur di dalam mobil dan lagi-lagi masih menahan sakit yang teramat. Sampai-sampai bapakku mengemudikan mobilnya dengan pelan agar tidak terasa jalan yang rusak. Sesampainya rumah sudah waktunya minum obat lagi dan alhamdulillah aku bisa tidur. Saat itu sampai satu minggu ke depan gerakku benar-benar masih sangat terbatas hanya bisa berbaring. Bangun pas ke kamar mandi dan makan. Perban pun masih harus diganti waktu mandi pagi dan sore. 

Itulah pengalamanku menjalani operasi abses vulva/kista bartholin yang ku alami ketika hamil. Semoga siapapun yang membaca ini dan akan melakukan pengalaman operasi yang sama seperti aku tidak usah takut. Karena penyakit ini tidak semenyeramkan seperti yang dibayangkan

Komentar

Postingan Populer