Melihat Jauh di Angan
Menjadi salah satu bagian terfavoritku ketika perjalanan dari rumah menuju kampus melewati jalur timur. Dimana sawah membentang sejauh mata memandang. Jauh dari hiruk pikuk jalur kota dan kendaraan roda besar. Terhampar sawah dengan hijaunya tanaman padi. Disempurnakan dengan pemandangan gunung-gunung yang berdiri kokoh. Namun bukan berarti hanya elok dipandang mata. Gunung yang menjulang memiliki arti lebih dari itu.
Pagi ini terlihat jelas di kejauhan bagian barat, gunung tertinggi di pulau Jawa menyembul menampakkan pucuknya secara anggun. Berteman dengan awan yang tak menghalangi mata memandang dari kejauhan 200 km. Pesonanya tak hadir sendirian, cuaca yang sedang cerah juga menampakkan pegunungan di bagian utara yang membentang melewati tiga kabupaten sekaligus. Sementara di bagian timur ada gunung dari kabupaten sebelah yang juga berdiri gagah dilihat dari kejauhan 80 km.
Tak bisa dielak lagi, pandanganku tersihir di arah barat menatap tajam gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut. Tersembul di fikiranku bahwasanya di kabupaten itu terdapat seseorang yang hadirnya sama seperti gunung yang kulihat. Hanya bisa dilihat dari kejauhan tapi tak bisa disentuh.
Jauh dalam anganku membayangkan kalau-kalau raga kita bersanding. Menikmati kopi sore hari yang hujan di kota dingin. Sambil sesekali bercengkerama. Terlihat simpel tapi rumit untukku yang hatinya telah dijaga orang lain. Dan terlalu munafik untuk memintamu merebut hatiku dari orang lain.
Tak jarang aku membayangkan kita bertakdir bersama. Berkolase membentuk rangkaian aktivitas yang hanya ada di anganku. Meskipun pada kenyataannya hati kita tak saling bertaut. Bahkan anganku terkadang bekerja melampaui batas. Seakan ingin mengubah takdir. Bisa-bisanya aku ingin tidak ditakdirkan dengan seseorang yang sudah menjalin kasih denganku saat ini. Ya, meskipun hubungan kita belum sampai pada tahap pernikahan. Tetapi waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyudahinya. Sialnya juga, dalam waktu lima tahun tersebut Yanuar juga masih berkecamuk di dalam hatiku.
Terkadang ia muncul dalam barisan foto-foto lama kenangan waktu SMA. Terkadang pula ia muncul dalam lagu yang tak sengaja aku putar. Dan saat ini ia muncul menjelma di balik gunung yang ku lihat dari kejauhan. Sengaja ku pelankan motorku demi bisa berlama menatap gunung itu. Sejurus kemudian pandanganku kembali ke realita yang ada di depanku. Jalanan sudah mulai ramai memasuki jam masuk sekolah. Mencoba mengembalikan fokus ke jalanan dengan fikiran yang sudah terlanjur terpatri kepada Yanuar.
Komentar
Posting Komentar