Takdir (Yang Mungkin) Tak Selalu Buruk

Sungging senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Raut muka yang mencerminkan keceriaan sangat tidak sepadan dengan topik yang sedang kami bahas. Bahkan dengan kondisi jari - jari kaki yang diperban setelah sebelumnya sudah membiru warnanya, ia tetap meyakinkan bahwa apa yang sedang dirasakannya kini tak lebih dari salah satu ketentuan takdirnya.

 ''Iyaa ini kemarin sebenernya aku disuruh rawat inap say. Tapi kerjaan di kampus yang masih bejibun jadi aku gak mau." kalimat enteng tapi tidak dengan maknanya yang dengan mudahnya ia ucapkan dibarengi kekehan tawa. Akrab ku sapa 'Bun Say', wanita dengan senyum merekah tak pernah hilang dari wajahnya. Sampai dengan aku tahu ada berjuta makna dibaliknya.

--- 

Pagi itu kami dipertemukan dalam giat sama yang mengharuskan duduk berdampingan selama setengah hari lebih. Berada dalam satu naungan kerjaan yang sama tak lantas menjadikan kita bertemu setiap hari. Namun mempunyai project barengan menjadikan pertemuan kita lebih intens akhir - akhir ini.

Luput dari pandanganku bahwa hari ini kakinya hanya beralaskan sandal jepit biasa. Sampai dengan ia menunjukkan ujung jari manis dan kelingking kakinya sudah terbalut perban. Pertanyaan kagetku lantas direspon olehnya dengan menunjukkan satu gambar dari handphonenya. 

Jari - jari kakiku tuh kan lama udah ga berasa ya Say, kemarin tuh waktu aku kerja selonjoran ternyata baru ngeuh kalau ada kaya gini. 

Di foto yang disodorkan, terlihat ada lepuhan di kulit. Dengan masih menahan ekspresi kaget, aku memintanya untuk segera meneruskan ceritanya karena penasaran. Belum selesai kekagetanku, aku sudah disodori foto kedua yang membuat perasaanku lebih dari kaget. Terlihat foto bagian bawah jari - jari kaki yang sudah membiru.

Tau gak sih ternyata jari - jari kakiku bawahnya udah kayak gini warnanya. Aku baru tau pas dikasih tau orang lain. 

Lantas dengan hati - hati aku bertanya, "Bun, smean baik - baik aja?" Berharap pertanyaanku tak menyinggungnya. Namun jawaban yang ku terima tak sesuai bayangan. Sambil tertawa dia bilang, ini yang menjadikan orang - orang disekelilingku heboh denganku. Dengan hati yang masih membatin, 'bagiku ini memang sewajarnya orang lain heboh bahkan khawatir terhadapnya.'. Namun itu terbuyarkan ketika aku (lagi - lagi) dengar gelakan tawa di sela - sela ceritanya. Oh, apakah aku yang terlalu berlebihan ya. Batinku masih bergelut.

"Gara - gara inilah aku dipaksa langsung ke rumah sakit Say. Sampe sana sana langsung ditindak dan bahkan aku disuruh rawat inap. Tapi aku gak mau, tau sendiri kita lagi hectic kaya gini di kampus." ceritanya sambil membenarkan posisi kaki karena perban yang masih tak boleh menapak lantai.

Sembari membuka laptop, ia melanjutkan ceritanya. Menceritakan es krim yang menjadi dalang perban itu bisa terbalut di kakinya. Dan aku masih takjim mendengarkan sampai usai.  Namun ternyata, bagiku yang sedari tadi sibuk bergelut dengan pikiran dan ketakutanku, secara tidak langsung disadarkan.

Predikat kakak yang ku sematkan kepadanya, membuatku tak ragu untuk mengungkapkan kerisauan setelah mendengarkan seluruh ceritanya. Lantas satu pertanyaan yang aku lontarkan, "Apa smean gak takut mati?" yang langsung dijawabnya tanpa berfikir lama, 'Takut say, tiap malam aku mikirin itu.' Hal tersebut ia barengi dengan menunjukkan satu kotak obat anti depresan.

Pertanyaan itu tak serta merta keluar dari mulutku, psikosomatis yang sudah membututiku tanpa bosan adalah salah satu alasan yang mendorongku untuk bertanya demikian. Sangat tidak mudah bagiku bahkan untuk sekedar mendengarkan seseorang yang jelas - jelas telah dihadapkan dengan sebuah hal mengkahwatirkan di dalam tubuhnya namun ia masih memberikan energi positif kepada orang lain. Ekspresi senyum dan ceria yang selalu dipancarkan jelas sudah menggambarkan bahwa takdir (yang tidak selalu buruk ) yang menimpanya bukan menghalanginya untuk bisa terus hidup dan merasa bahagia.

Lantas aku? Acapkali merasa dikendalikan oleh ketakutan dan merasa kalah. Kemudian, baru saja disajikan fakta bahwa orang yang menerima takdir yang mungkin lebih beratpun masih bisa menyunggingkan senyum. 

Lamunanku segera disadarkan ketika dia menyolekku, "Yuk Say kita mulai wawancaranya untuk peserta ya.". Yang segera ku anggukkan dengan senyum.

--- 

 

 

Komentar