Perjalanan tanpa Tuju dan Temu
Sore itu aku sedang berada di atas motor di salah satu jalan protokol penghubung antar kabupaten. Tampak matahari mulai tergelincir mendekati peraduan. Total tiga jam sudah aku berkendara. Sendirian.
Tampak jalanan mulai menanjak memasuki kota Malang. Pergantian dari kota Industri ke kota yang dingin membuat keringatku sedikit lega yang sedari tadi sudah buncah keluar.
128 km kali ini memang sengaja ingin ku lewati sendirian. Bukan dari jendela bis atau kursi kereta api. Memilih menaiki motor dengan ditemani alunan syair di telinga rupanya adalah pilihan terbaik.
Meskipun tanpa tuju dan temu, aku yakin keputusanku melakukan perjalanan kali ini adalah untuk mengeluarkan semua yang menurutku terlalu sesak untuk terus berada di pikiran dan perasaanku.
Ya, setidaknya dengan aku ke Malang aku bisa menghirup udara yang sama denganmu. Meskipun seperti kataku tadi. Tanpa tuju dan temu.
Ku tengok jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul empat sore lewat sepuluh menit. Setengah jam lagi sampai tujuan perkiraanku kalau dilihat dari macetnya jalanan weekend.
Terlihat bus pariwisata dan mobil pribadi berplat nomor L mendominasi arah ke Batu. Entah kenapa tatapan ini tak hanya fokus menatap ke depan. Pandangan ke spion dan sekitar tak luput dari ujung mataku.
Bandel kalau kataku. Sudah dipertegas dengan chat yang menggantung darinya sejak pekan lalu. Tanpa balasan. Sama sekali. Masih saja menguji pertemuan. Di jalan raya pula. Apakah logikanya tak sampai. Bagaimana bisa papasan dengan satu orang di kota dengan jumlah penduduk 90.000 orang.
Tapi bukannya aku ke sini memang mencoba peruntungan itu. Mungkin saja aku menjadi salah satu orang yang mendapat predikat 'tak sengaja bertemu' di tengah banyaknya penduduk itu. Di jalanan seperti sekarang mungkin. Bisa saja ketika dia pulang kerja. Atau nanti waktu aku di tempat makan, waktu kita sama-sama cari makan. Atau bisa juga ketika di alun-alun kota. Waktu aku minum susu jahe dan dia tak sengaja lewat sama temennya. Hanya karena tempat kosnya dekat dengan alun-alun.
Itulah yang ada di benak dan anganku saat ini. Masih kuat menggantung harapan agar bisa bertemu dengannya. Padahal kalau aku mau menengok ke belakang, satu pekan lalu percakapan kita di chat sudah berakhir tanpa kelanjutan kembali. Aktifitas telepon kita pun sudah tenggelam di log panggilan.
Ya karena semua itu seharusnya memang wajar terjadi. Tak ada alasan untuk dia menjelaskan semuanya karena memang tak pernah ada tali yang menghubungkan perasaan kita. Aku saja yang memang menawarkan kepadamu ujung tali. Namun aku menyembunyikannya. Tanpa pernah kamu tahu harus melengkapi ujung satunya.
Roda memasuki area penginapan tepat bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Temaramnya membiaskan semuanya menjadi oranye disempurnakan dengan kondisi setelah turun hujan. Rupanya perkiraanku tadi salah, macet membuatku terlambat setengah jam tiba di penginapan.
Sudah ada dalam wishlist, selain akan memutari kota lalu minum susu jahe, beli tahu kriuk adalah tujuan selanjutnya sebelum kembali lagi menikmati puncak dari jendela kamar.
Daftar lagu dan film sengaja ku siapkan sejak tadi pagi sebelum berangkat untuk membunuh waktu malamku. Sambil menatap jauh ke gemerlapan cahaya di lereng gunung. Sengaja aku memilih penginapan dengan view terbaik.
Meskipun tak bisa menatap, hadirku di kota yang kamu tinggali sekarang sudah mewakili ragamu. Aku bisa menginjak jejak yang mungkin pernah kamu lewati. Aku bisa mencicipi makanan yang pernah kamu ceritakan.
Sampai dengan perjalananku ini menemui titik tujuan yang aku harapkan. Melupakanmu.
Komentar
Posting Komentar