Ketika Malam Panjang Penuh Sepi Mulai Datang

Juli, 2017..


Sekali lagi aku menatap dengan tatapan memohon. Jelas sekali terpancar dalam sorot matanya. Hambar. Tak ada lagi aku di dalamya.

"Please.. ini untuk yang terakhir kalinya." ungkapku lirih demi tak terdengar kawan lain di sekeliling kita.

Duduk diboncengannya tak pernah sedingin ini suasananya walaupun kemarin-kemarin kita bersepeda di bawah rintik hujan. Sesekali aku bertanya setelah berusaha mencari topik. Yang hanya dibalas dengan jawaban berakhir tanda titik. Tak ada pertanyaan balik.

Yang ku fikirkan, aku hanya berusaha menepati janjiku kepada diriku sendiri. Berada sedekat ini dengannya untuk yang terakhir kali. Diapun menepati janji yang dia buat sendiri ku kira. Bagaimana tidak, kita yang berada satu motor malam ini seakan hanya sekedar sebatas kawan lama yang sedang berboncengan. Apakah tak bisa hatimu lunak sejenak saja seperti beberapa hari yang lalu ketika kita diam-diam saling curi waktu untuk sekedar makan malam bersama?

Sebenarnya tanpa diperjelas dengan sikapmu yang dingin pun aku sudah paham. Namun aku hanya mencoba mengulur waktu. Penegasan yang kau katakan berulang-ulang bahwa yang kita lakukan salah, mencoba ku terima. Iya, ada hati yang kau jaga, aku paham. Iya, bahwa apa yang kita lakukan itu salah, aku juga paham. Tapi yang belum aku paham, kenapa kau tega membawaku memasuki hatimu terlalu dalam kalau hanya berakhir seperti ini?

Bahkan sampai acara makan-makan kita usai malam itu, sikapmu tak mencair sedikitpun. Sungguh kau sudah melunasi keinginanku untuk bersama sedekat ini. Tapi apakah kau sadar malam panjang dalam kesedihan justru baru saja dimulai? Bahkan kalau kataku, kau semakin memperkeruh dengan tak menjelaskan satu katapun selain pesan yang kau kirimkan beberapa malam yang lalu.

"Kita tak sepatutnya begini. Bukan bahagia kalau menyakiti perasaan orang lain. Kita sampai lupa kalau ada hati yang sama-sama harus kita jaga."

Komentar

Postingan Populer