MANTAN (Senja di Kaki Langit)

Mantan (Senja di Kaki Langit)
oleh Disa Yulistian

     

Sore ke sekian kali ketika Husna mengambil gelas berisi teh yang masih penuh dari atas meja makan. Selalu saja masih penuh. Husna pun tak lagi mengingat sudah berapa sore yang ia lalui dengan mencuci gelas teh yang masih belum terminum sama sekali. Tangannya terampil menimba air satu timba penuh di sumur samping rumah. Daun menghijau pada pucuk batang pohon seakan mendukung aroma wangi semerbak tanah bekas rintikan hujan pada awal musim penghujan. Husna selalu mencuci gelas sisa teh persis setelah ia menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. Matahari yang mulai menginjak kaki langit tertutup oleh awan yang berarak pelan menyembulkan warna hitam kelamnya. Satu timba penuh selalu disiapkan hanya demi mencuci satu gelas sisa teh. Bukan, bukan sisa. Persisnya, mencuci gelas teh yang tak pernah terminum.
            Tak pernah bagi Husna betah merasakan hati segundah ini sampai berminggu-minggu lamanya. Hujan sore hari tak lagi ia sukai, tarian burung gereja yang bertengger di atas kabel-kabel jalanan luput dari tatapan matanya. Suara ayam yang sibuk pulang ke kandang masing-masing serasa memekakkan telinga. Pun ia hanya menjawab satu dua sapaan ramah ibu-ibu yang melintas di depan rumah sepulang mereka merumput di hutan pinggiran desa. Harusnya pemandangan itu sangat bisa dinikmatinya apalagi kalau sudah banyak anak-anak yang berangkat mengaji di musholla pak Musoh. Husna yang punya banyak keponakan kecil selalu meneriaki mereka untuk berhati-hati membawa sepeda dan pulang tepat waktu setelah mengaji selesai. Namun, beberapa minggu ini Husna membiarkan keponakan-keponakannya berlalu diam melewati depan rumah tanpa ada teriakan-teriakan penuh keriangan.
***
            Rutinitas pagi sebulan terakhir ini memang menjadi lebih menyenangkan. Bahkan aku sempat melihat Ibu geleng-geleng kepala ketika melihat awal mulanya aku menjadi super rajin.
“Cukup Nak, cukup kamu potong-potong saja kentang sama wortelnya. Bumbunya biar Ibu yang buat. Kamu cepat mandi dan pas ketika Ibu selesai memasak kamu lekas sarapan.”
       “Biar Husna saja yang masak bu. Ibu apa ndak cium wangi anaknya ini? Aku sudah mandi sebelum sholat shubuh tadi.”
       “Loh, anak gadis Ibu sudah dewasa betul sekarang?”
“Ibu ini meledek ya. Bentar lagi anak ibu akan jadi mahasiswa sekaligus menjadi pengantin lo. Masak masih dibilang anak kecil.”
     Tertawa, “Siapa bilang kamu anak kecil, ibu cuma baru sadar kalau kamu udah beneran dewasa.”
“Apa karena Husna masih sering tidur minta ditemani ibu gitu bu, terus ibu bilang baru sadar kalau Husna udah dewasa beneran.”
“Kamu itu persis bapakmu, diajak gurau saja bawaannya langsung pingin marah.” Menyenggol pinggang, sengaja, biar Husna tertawa.
            Ibu selalu memukau dengan caranya. Ibu juga yang bisa menyikapi segala suasana dengan hati yang dingin. Yang selalu bisa mendampingi Bapak serta meredam amarahnya. Disempurnakan oleh sikap Bapak yang selalu bijaksana dan selalu adil bagi anak-anaknya. Dari kecil aku selalu menginginkan, kelak aku ingin menjadi orang tua seperti mereka bagi anak-anakku. Tetap romantis walaupun sudah seperempat abad mereka bersama, menebar keceriaan dalam suasana rumah, dan selalu mengajarkan untuk mengingat Tuhan-Nya dimanapun berada. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan aku menyukai Kemal. Ya! Karena Kemal mirip Bapak. Bukan suatu kesalahan apabila ada anak gadis yang menginginkan calon suami seperti bapaknya. Dan aku rasa Kemal sudah memiliki kriteria yang cukup untuk itu. Lembut dan berwibawa.
            Tak akan pernah terlupa dalam memori otakku ketika aku menyukai Kemal sejak kelas 2 SMA, dimana 3 tahun kita SMA selalu satu kelas. Menyukainya diam-diam. Bukan sekedar ngefans seperti remaja putri umumnya menyukai idol Korea. Ini lebih dari itu. Aku selalu merasa ingin mengetahui lebih dalam tentang dia. Dan aku juga selalu merasa patah hati setiap Kemal dekat dengan perempuan. Tak bisa dipungkiri ketika untuk pertama kalinya Kemal secara pribadi mengubungiku, ‘Husna, ini aku Kemal, aku mau tanya tentang tugas Biologi tadi siang, aku agak tidak paham.
       Kalau aku mau dan tak malu dengan Ibu, seketika sudah aku loncat-loncat di atas kasur. Dengan kecepatan jari tangan aku segera membalas pesannya, menggunakan bahasa se-biasa mungkin. ‘Oh, iya Kemal, ini aku ada catatan yang tadi diberikan Pak Bowo.
       Kemal membalas lagi, ‘Boleh kamu fotokan Husna, biar aku bisa paham.
       Sepersekian detik setelah Husna membaca isi pesannya, kemudian dia segera mencari angle foto terbaik dengan cahaya penerangan maksimal agar materi pelajaran bisa dibaca Kemal-nya itu dengan jelas. ’Bisa, sebentar aku fotokan dulu’.
       Terima kasih Husna.’ Malam itu menjadi malam yang penuh kedamaian bagi Husna. Setelah berlama-lama dia cuma bisa memendam perasaan, hari ini gayung tersambut. Meskipun hanya sekedar pertanyaan tentang tugas sekolah, dia begitu senang.
            Tapi kebahagiaan Husna tadi malam rupanya begitu singkat. Perasaannya luluh lantah demi melihat Kemal yang terlihat begitu akrab berbicara dengan anak perempuan di lorong sekolahan.
       “Kantin yuk!” Tiba-tiba Amel menggamit lengan.
       Husna terdiam. Amel ikut melirik kemana Husna melemparkan pandangannya. “Oh.. Kemal lagi. Rupanya kamu hari ini ga butuh ke kantin deh.”
       Husna mengernyit, “Emang aku butuh kemana?”
       “Butuh pulang ke rumah, ambil setrikaan trus nyetrika mukamu yang kusut itu.” Mengejek sambil tertawa, berlari menuju kantin.
       Husna pun mau tak mau mengejar Amel yang berlari menuju kantin, arah yang berlawanan dengan Kemal berdiri. Menyempatkan meliriknya sekali lagi sebelum menuju kantin, “Hei.. ga akan lolos ya kamu Mel, dasar jomblo lumutan.”
            Malamnya Husna duduk di samping jendela kamarnya, langit bulan September menyuguhkan gugusan bintang yang sempurna. Melongokkan kepala keluar jendela menyaksikan langit malam selalu menjadi kegemaran Husna, dia berfikir tentang nasib perasaannya kemudian menyimpulkan sendiri sikap Kemal.
       “Harusnya aku bisa sadar diri, Kemal baik kepada semua anak perempuan. Jadi tidak menutup kemungkinan hal yang dilakukan Kemal ketika menghubunginya kemarin merupakan hal lumrah yang biasa ia lakukan kepada anak perempuan lain.” Batinnya. Perasaan mudah sekali terbolak-balik, sepertinya kurang dari 24 jam yang lalu hati Husna masih sumringah menerima pesan dari Kemal. Namun, sekarang dia merasa sangat berputus asa atas simpulan yang ia buat sendiri.
       Tak mudah memang menghapuskan sosok Kemal meskipun setiap hari Husna sudah mati-matian melupakannya dengan mengisi penuh hari-harinya dengan kegiatan sekolah yang padat. Sampai terasa sesak dadanya. Tapi malah di ujung malam dia kelelahan karena aktifitasnya, Kemal pun menerobos masuk ke dalam fikirannya saat itu juga. Husna tak mau kalah dengan fikiran negatif, dia terus berusaha memperpadat kegiatannya. Lagi. Menjadi lebih padat sampai Kemal tak lagi masuk ke dalam fikirannya barang satu detik. Namun, di hari-hari ketika dia lagi bersusah payah menghilangkan sosok Kemal, takdir berkehendak lain. Pesan dari Kemal mampir untuk kedua kali, ‘Husna sudah tidur? Maaf malam-malam mengganggu.’
       Mata Husna melotot, tenang Husna.. Tenang. Jangan terpancing. Dia menata fikirannya sendiri. ‘Iya Kemal, ada apa?’
       ‘Untuk tugas Fisika tadi, boleh ga aku gabung ke rumahmu besok buat mengerjakan bareng?’
Duar! Pertahanan melupakan Kemal berhari-hari hancur sudah, perasaan sukanya tak mampu lagi terbendung. Dia senang bukan main.
       Sejak kejadian itu ternyata diketahui kalau Kemal sebenarnya juga memendam perasaan kepada Husna, namun tak berani mengakui. Setelah komunikasi yang intens, akhirnya jalinan cinta mereka terwujud. Hari-hari penuh kebahagiaan menghampiri dua sejoli ini. Husna sering membawakan makan pagi dari rumah buat Kemal.
---
       “Biar aku saja yang memasak pagi ini Bu, aku mau membawakan makan pagi untuk Kemal. Ternyata dia suka masakanku yang kemarin. Kemal juga suka minum teh hangat”
       “Sudah dewasa betulan ternyata anak Ibu, bukan bohongan lagi.” Sambil tersenyum menggoda.
“Bu.. kan barusan sudah menggoda Husna, masak masih belum puas.” Bersungut.
            Hubungan mereka bertambah level keseriusan pada akhir masa SMA. Kemal meminang Husna dan mereka memutuskan menikah. Karena Kemal sudah memiliki usaha, dia tak masalah kalaupun Husna ingin melanjutkan kuliah selepas mereka menikah. Namun, rupanya kehidupan tak selalu berakhir sempurna seperti cerita dongeng, Mobil yang ditumpangi Kemal ditabrak truk tronton di tikungan tepat seminggu setelah mereka menikah. Sore itu, Husna baru pulang dari mendaftar kuliah di PTN, ia berangkat sendiri karena Kemal lagi ke luar kota sehari untuk keperluan bisnis. Husna mendapat pesan, Kemal memberitahukan kalau sore itu dia akan pulang. Setelah mandi dan memasak, Husna menyempatkan membuat teh hangat untuk Kemal. Setengah jam dari pesan Kemal yang terakhir, tiba-tiba Husna mendapat telepon dari polisi, bak tersambar petir, kabar yang dibawa polisi ialah kabar kematian Kemal, suaminya, karena tabrak lari supir truk tronton. Tak bisa berkata apapun, air mata pun tak kuasa keluar saking pedihnya. Ia tak kuasa menahan perasaan pada dadanya yang entah bagaimana rasanya saat itu. Husna keluar rumah, memastikan Kemal tak datang mengendarai mobilnya. Melihat ke arah barat, senja. Matahari mulai menginjak kaki langit dengan awan yang berarak perlahan berwarna hitam kelam. “Aku akan tetap mencintaimu sebagai mantan kekasihku Mas. Tidak untuk sebagai mantan suami. Karena cintaku hanya satu kali seumur hidup, yaitu kamu.” Air matanya berlinang, segera ia bersiap pergi ke tempat kejadian kecelakaan. Menatapkan hati. Hujan mulai turun.


Komentar

Postingan Populer