Temaram Senja (I)


Mei, 2017...



TEMARAM SENJA
oleh DisaYulistian



            Mataku masih terasa lengket ketika bunyi alarm pukul 03.00 dini hari. Kupenjamkan mata lagi. Dan, ups! “Aku tidak boleh sampai telat bangun”. Kakiku perlahan turun dari tempat tidur. Ketika kaki menginjak lantai seketika dingin berhembus melalui pori menyusup ke angan. Dingin. Dini hari di musim semi. Kucoba samarkan kantuk dengan membuka tirai, kota masih terlalu dini untuk dinikmati dari lantai 17. Jalanan masih tidur menyisakan angin yang dihembuskan dari nafas-nafas panjang penyandang beban berat hidup.
--
“Make up natural glow cocok banget di muka Din. Mau pake lipstik warna apa?”
Mungkin sejam terakhir sudah lebih dari duapuluh kali aku membuka whatsapp.
       “Hei Din.. kok nglamun? Duh.. tenang saja deh, ini masih tunangan kok. Ga usah gugup berlebihan gitu deh.” Nayla menepuk pundakku usil. Kebiasaan.
       Memandang sekilas, tersenyum getir, “Oh, eh.. apa Nay? Lipstik ya? Terserahmu deh. Aku serahkan wajahku pada make up artis ini.”
       “Yah.. BT ah, kamu ga fokus sama aku. But, okelah gak papa. Kamu cukup duduk manis, akan kubuat wajah kau beda hari ini.”
Itulah Nayla. Beberapa detik saja setelah kulempari pujian sudah riang kembali hatinya. Gadis yang ku kenal sejak SMA sebagai sahabat yang sangat periang. Sampai-sampai dia tak sadar senyumku ada yang beda di hari ini.
       Drrrtt.. sepersekian detik tanganku terampil membuka whatsapp yang masuk. Mataku berlarian membaca huruf demi huruf kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat. Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Aku tak mungkin melukai hati sahabatku dengan menunjukkan wajah sembab sebagai calon pengantin pada saat seperti ini. Kulirik arloji di pergelangan tangan. Benda yang mempunyai arti lebih penting dari sekedar penunjuk waktu.
***
            Kutatap lebih tajam layar handphone. Kubaca pesan berulang seolah masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Kembali kupalingkan pandangan ke cermin. Sempurna. Setelan jeans dan kaos lengan panjang dipadukan jilbab warna abu-abu dengan polesan bedak tipis dan bibir merona sewajarnya. Aku berusaha memperlihatkan gaya senormal mungkin walaupun wajahku tak bisa berbohong. Terlalu bahagia.
       Teleponku berdering, ragu kuangkat, “Halo..”
       “Aku sudah di depan kosan.”
       Tersenyum, langsung kumatikan telepon dan meloncat keluar. Aku berharap degupan jantungku tak terdengar olehnya.
       “Nunggu ya?”
       “Enggak. Paham kok cewek masih ngapain aja.” Tersenyum.
Tuhan, tolong aku agar tak terlihat rona sipu di wajahku.
       Menjabat tangannya, kaku, “Gimana kabarnya?”
       Sekilas melirik ke mataku dengan tatapan yang sama. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu, “Baik, selalu baik apalagi di hadapan kamu.”
Cara dia tersenyum padaku bahkan tak ada yang berubah.
       “Jadi makan kan Din? Ayo naik.”
       “Jadi lah. Kan kamu belum makan daritadi. Sekarang gitu ya, yang udah jadi mantan mahasiswa, nyari duit terus sampe lupa makan.”
       “Biasah lah masih baru. Nunggu aku jadi bos dulu biar gak lembur kayak gini.”
Masih kaku banget tentu. Bukan soal kita baru pertama kali bertemu. Melainkan pertemuan dan suasana yang tak seperti biasanya.
       “Makan kemana nih Yan?”
       “Gak tau deh nemunya dimana nanti.” Tertawa.
       “Aku jangan diculik loh hampir tengah malam kayak gini.”
       Yanuar tertawa lagi, “Emang ada manfaatnya nyulik kamu? Nyusahin banget, ngomong terus.”
       “Ye.. Aku diam nih.”
       “Jangan dong, jadi gak asik kalau kamu ga cerewet.”
--
            Pukul 22.00 lewat kala itu ketika aku sampai kos lagi. Tanganku menjabat hangat tangannya. Dia pamit pulang dengan mata sendu yang terlihat sangat lelah. “Aku bahagia.” itu mulutku yang berkata. Namun, entah kenapa kesedihan juga memaksa hinggap menelisik perasaanku.
       Sesampainya kamar aku coba bercermin, “Bukankah kejadian seperti ini yang kau harapkan dari empat tahun yang lalu Din? Kenapa malah sedih? Bahagia dong!” namun sayangnya kaca tak cukup memberikan jawaban yang aku butuhkan.
            Di lain sisi, kebahagiaan menyergap dengan tak sopannya di sudut-sudut relung hati. Aku mencubit pipiku sendiri, “Aw..” ini bukan mimpi. Masih terasa aku mencium aroma tubuhnya, aroma yang aku rindukan selama bertahun-tahun belakangan ini.
            Kuraih handphone dan mencari kontak Reina. Ragu. Tak seharusnya aku menceritakan ini sekarang. Seharusnya pertemuanku dengan Yanuar yang seperti ini sudah terjadi ketika kita SMA. Ketika perasaan ini baru tumbuh. Bukannya malah sekarang ketika kita sudah sama-sama lulus perguruan tinggi dan sampai perasaan ini sudah mengakar bahkan menjadi lumut di pojokan hati. Ah.. Semalaman aku biarkan kebahagiaan yang memuncak beradu dengan kesedihan yang tak pasti sampai akhirnya aku terlelap dengan sunggih senyum di hatiku.
--
       “Aku pamit pulang duluan ya.”
       “Pulang aja Din, aku masih mau nunggu dosen.”
       “Iya makasih Mad, aku lagi kurang enak badan nih.”
       “Yeh.. bukan ga enak badan tuh. Emang akhir-akhir ini perasaanmu labil.”Ahmad menimpali menggodaku.
            Memang sejak Aku dan Yanuar kembali dekat akhir-akhir ini perasaanku jadi tak karuan. Kadang seperti orang yang lagi kasmaran, dan kadang bisa berubah secepat kilat menjadi sangat murung dan menjadi sedih.
       “Bukannya sekarang kamu jadi sering senyum-senyum sendiri sama handphonemu.” Temanku yang lainnya menimpali.
       Ahmad menatapku, “Sudah, berfikirlah jernih. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu biasanya paling semangat kalau sudah bully­-bullyan seperti ini. Sekarang sok jadi Miss galau.”
       “Akan ku coba saranmu.” Aku menepuk pundaknya dan berjalan gontai ke kosan.
            Ketika aku sendirian aku tak kuasa untuk tak memikirkan Yanuar. Air mata yang meronta keluar bahkan tak bisa mewakilkan bagaimana gundahnya hatiku akhir-akhir ini. “Sudah bertahun-tahun berharap Yanur bisa membalas perasaanku, kenapa sekarang giliran semuanya terwujud hanya kebingungan dan kegundahan yang ada?” pertanyaan tersebutlah yang sangat sering aku tanyakan pada diriku sendiri akhir-akhir ini.
            Aku bisa membohongi orang lain dengan senyum palsu di wajahku namun aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri. Ku akui selama satu bulan terakhir ini Yanuar mengambil peran utama di hidupku. Secara tiba-tiba. Seakan-akan doa yang aku panjatkan selama empat tahun terakhir ini secara perlahan dan beberapa telah dikabulkan Tuhan. Tak bisa dipungkiri aku terlalu hanyut oleh perasaan membara kita berdua. Terlalu bahagia bila tiba-tiba dia berkata, “Ayo habis ini makan, aku jemput ya.” atau aku akan terlalu bersemangat ketika dia bilang, “Mau pulang? Biar aku antar.”. Saking bahagianya aku sampai tak pernah menyiapkan hatiku untuk menerima kata-katanya yang bukan lagi memberikan kebahagiaan menurutku. Yang pada suatu ketika dia berkata “Mau sampai kapan kita seperti ini? Apakah aku harus menunggu kamu putus sama pacarmu Din? Apa aku harus terus mengharapkan kamu dengan tak pasti.”
       Pfft.. Aku melempar tas dengan asal ke atas tempat tidur. Kepalaku berdenyut seolah obatpun tak akan bisa meringankan sakitnya. “Aku harus berani patah hati. Aku harus siap menanggung sakit hati.” Batinku dalam hati.
            Aku sudah bertekad ingin menemui Yanuar dan ingin membicarakan masalah ini secara dewasa. Ku beranikan diri mengirim whatsapp dan berkata serius.


"Kamu kapan ada waktu luang? Aku pingin kita ketemu. Kalau bisa luangkan setelah kamu pulang kerja."
 
-
            Setelah melewati perdebatan alot menentukan waktu, malam ini tanpa harus berlama-lama di cermin aku sudah siap menunggu Yanuar. Frekuensi pertemuanku dengan Yanuar akhir-akhir ini sudah membiasakan perasaanku ketika bertatap langsung dengannya. Tatapan yang  mungkin tak bisa kunikmati lagi. Malam ini tak lagi repot aku memilih baju dan riasan di wajahku karena memang aku tak ingin memikirkan penampilanku. Tak lagi dipusingkan dengan warna jilbab yang ingin ku kenakan. Berbeda ketika aku mau bertemu pertama kalinya satu bulan yang lalu. Tak butuh waktu lama dia sudah datang dan membawaku ke tempat tujuan.
--
       “Tak dihabiskan makannya Din?”
            Aku hanya menggeleng, tersenyum tipis. “Lagi diet.” jawabku bohong. Padahal tak satupun jenis makanan di daftar menu yang masuk ke seleraku. Bukannya menunya gak enak. Bukan. Hanya kerisauan hati yang menganggu selera makanku. Sampai pada akhirnya pilihanku jatuh pada menu, “Aku pesen sama kayak kamu aja Yan.”
       “Gak enak ya? Bukannya kamu yang ngajak kesini. Besok-besok lagi aku gak mau ngajak kalau makan gak dihabiskan.”
Cukup. Dadaku sesak. Sudah tak kuat menampung beban yang daritadi sudah aku pendam dengan susah payah. Aku tak menghiraukan omongannya, “Yan..” sapaku lirih.
       “Hmmm..”
       “Aku mau ngomong serius.”
Menatapku, “Ngomong apa Din?”
       “Hubungan ini mau dibawa kemana? Gimana kabarnya pacarmu?”
       “Ah, males aku ngomongin dia. Udahlah, aku ga pingin ngomongin.” Yanuar mengalihkan pandangan.
       “Tapi aku lagi pingin ngomongin.”
Air mataku masih bisa diajak kerjasama, dia masih bertengger di pelupuk mata paling dalam. Tak terlihat oleh siapapun.
       “Udah jangan terlalu bawa perasaan. Kebiasaan ini ya.”
       “Gak bawa perasaan gimana? Setelah semua yang kita lewatin akhir-akhir ini?” Aku sudah mulai tak bisa mengontrol emosi.
       “Ngomongin yang lain aja.”
       “Yan.. pliss.”
       “Terserah deh, kenapa?”
       “Kamu bilang aku jangan terlalu bawa perasaan? Kamu udah bawa aku ke dalam perasaanmu terlalu jauh Yan. Kamu secara gak langsung mulai berubah bosan terhadapku. Gak lagi bersemangat seperti waktu pertama ketemu.”
       “Aku cuma lagi banyak kerjaan. Kamu jangan gampang nyimpulkan gitu dong.”
       “Aku gak nyimpulkan terlalu cepat. Tapi aku ngrasain. Aku pingin hubungan ini diperjelas. Aku pingin kamu langsung bilang tentang perasaanmu ke aku  sekarang kalau kamu benar-benar masih ada perasaan sama aku.”
       “Aku udah tau jawabannya. Aku pasti dito...”
       “Emang kamu pernah mencoba?” kupotong omongan Yanuar. Nafasku mulai tak beraturan. Air mata seakan mulai tak bisa diajak kerjasama. “Kamu sudah banyak mengubah hidupku akhir-akhir ini. Kamu udah jadi penyemangatku akhir-akhir ini. Tapi kenapa lama-kelamaan seolah kau bosan padaku? Kenapa lama kelamaan sifatmu berubah drastis kepadaku? Kalau kamu gak berharap pada keadaan ini bilang Yan.” Bulir air mata menetes perlahan membasahi pipi.
       “Aku gak kenapa-kenapa kok.”
       “Bukan itu jawaban yang aku harapkan Yan. Kamu paham itu. Sampai berapa lama lagi kamu menghindar ketika aku ingin membicarakan hal ini.”
       “Aku minta maaf aku gak bisa.”
Sempurna sudah, air mata menggenang membasahi mataku mengalir ke pipi dengan derasnya seperti butiran air hujan yang turun di musim penghujan.
       “Aku cewek Yan.. bagiku segalanya aku kaitkan dengan perasaan. Lalu menurutmu apa artinya akhir-akhir ini kita sering bersama kalau lama-kelamaan kau berubah cuek seperti sekarang?” benar-benar sesak dadaku.
Yanuar mendekatiku, memelukku. Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. Aku menganggap dan bertekad dalam hati kalau pelukan ini menjadi pelukan terakhir. Lama sekali aku jatuh dipelukannya. Jatuh sejatuh-jatuhnya.
       “Udah-udah. Jangan nangis lagi. Mungkin memang bukan jalannya kita bisa bersatu.”
            Tiba-tiba Yanuar melepas arloji di pergelangan tangannya, dan memakaikannya kepadaku “Kalau kamu tak bisa bersamaku, kamu masih bersama ini sebagai penggantiku. Arloji ini akan menjawab segala pertanyaan lebih dari yang kau butuhkan.”
       “Apa maksutmu?”
       “Kamu akan mengerti dengan sendirinya nanti. Jagalah agar arloji ini selalu menemanimu kapan saja.”
---
            Dan disinilah aku sekarang. Di lantai 17 hotel ternama. Dengan berhiaskan polesan make up cantik oleh sahabatku, dan balutan kebaya apik aku siap dipinang oleh seseorang. Seseorang yang berani menemui orang tuaku. Setelah aku bersusah payah membuka lembaran cinta lagi setelah kejadian malam itu bersama Yanuar. Hari-hari setelah kejadian tersebut menjadi hari-hari terburukku. Tangisan dan kemurungan seakan tak mau pergi meninggalkanku. Sampai pada akhirnya aku bertekad untuk menghabiskan waktuku dengan kerja,kerja, dan kerja tanpa lagi ada celah untuk sedetikpun mengingatnya. Bukan perkara mudah saat itu. Bahkan sampai sekarang perasaanku tak bisa teralihkan sempurna. Terlalu jahat memang untuk ukuran perasaan seorang wanita yang akan dipersunting orang.
--
Aku memandang arloji yang ku kenakan dan pesan di whatsapp secara bergantian. Tentu air mata tak bisa terbendung lagi. Tanpa ada yang pernah mengira aku menangis di hari bahagiaku. Hanya cermin satu-satunya saksi aku menangisi sesuatu yang bahkan tak pantas untuk ditangisi.
       “Hei..Din..Dinar. Lama banget di depan cermin. Udah cantik kok.” Nayla melongok ke dalam kamar lewat celah pintu.
       “Sebentar, aku masih merapikan bedak.” Kataku bohong.
Aku menarik nafas panjang sekali lagi. Meratapi perasaan dan berfikir kenapa Yanuar meninggalkan perasaan ini terlalu dalam. Memang, beberapa hari yang lalu aku mengirimkan pesan kepadanya. Kutanyai kabarnya dan kubilangi dia bahwa aku akan bertunangan hari ini. Tak ada balasan sampai hari ini bahkan setelah aku mengecek pesan whatsapp berulang kali. Mungkin dia sudah bahagia dan menemukan jodohnya. Pikirku mencoba menghibur diri. Namun ternyata fikiranku terpatahkan seketika ketika whatsapp dari Yanuar masuk beberapa menit yang lalu. Pesan yang datang di hari yang seharusnya sangat berkesan bagiku. Dengan membacanya sekali saja aku sudah terngiang-ngiang di luar kepala pada isi pesannya.




















        








"Hai Din,kabarku baik-baik saja. Aku masih sama seperti  dulu, masih gila kerja. Dan ternyata sampai sekarang aku belum bisa jadi bos seperti yang aku katakan dulu shg aku harus lembur terus sampai lupa balas pesanmu. Hehe

Doakan ya, hari ini aku flight ke luar negeri. Aku memutuskan menerima tawaran kerja disana biar aku ga kepikiran kamu terus kalau aja sampe skrg kita masih satu kota. Dengan begini aku tak susah mencari alasan untuk aku tidak datang ke hari pernikahanmu kelak. Semoga aja disana aku bisa menemukan wanita impian yang tentunya ga menyusahkan dan banyak omong kaya kamu :D sekali lagi selamat ya. Aku turut berbahgaia. Yanuar."




       “Sekarang aku tau Yan apa maksutmu memberiku arloji ini dulu. Kau menyuruhku untuk berguru kepada waktu. Karena waktu satu-satunya pengobat sakit hati. Tapi payahnya waktu bekerja sangat lamban ketika dia harus menghapuskan sosok tentangmu di fikiranku.” Air mataku menetes. Lagi.
       “Sayang, cepatlah. Rombongan mempelai lelaki sudah datang loh.” Kali ini Mama yang meneriakiku  dari lobi, menyuruhku untuk segera turun ke aula hotel.
       “Iya Ma..” teriakku menjawab dan segera merapikan bedak untuk yang kesekian kalinya.
            Aku doakan semoga kamu sukses disana Yan. Aku berusaha bergelut dengan waktu untuk menggantikan posisimu di hatiku dengan lelaki pilihanku. Waktu belum berpihak pada kita, tidak menutup kemungkinan waktu akan berpihak kepada anak-anak kita mungkin. Biarkan kelak mereka bisa mewakilkan perasaan kita sekarang yang tertunda.

Komentar

Postingan Populer