10 PENYAIR INDONESIA DAN KARYANYA
1. Muhammad
Yamin
Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto pada tanggal 23 Agustus 1903 dan
meninggal dunia pada tanggal 26 Oktober 1962. Karya-karyanya diantaranya tanah
air dan bahasa, bangsa. Oleh beberapa pengamat dan peninjau sastra, dianggap
sebagai pemula penyair dalam khasanah sastra Indonesia modern.
·
Ciri khas karya M. Yamin :
Berdasarkan dari judul karya-karyanya beliau termasuk
seorang nasionalis yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air.
·
Karya – karya Muhammad Yamin diantaranya :
a)
Bukit
Barisan
Hijau tampaknya Bukit
Barisan
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang
Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang
Habislah tahun berganti jaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang
Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Berteduh selasih kemboja sebatang
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang
Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang
Habislah tahun berganti jaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang
Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Berteduh selasih kemboja sebatang
Tema
: Perasaan seorang penggembala
b) Gembala
Perasaan siapa tidak kan nyata
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja di tengah dendang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan elok permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengar puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja di tengah dendang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan elok permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengar puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau
Tema : Nasib seorang penggembala
c)
Tanah Air
Pada
batasan, bukit Barisan,
Memandang aku, ke bawah memandang;Tampaklah Hutan, rimba, dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula;
Langit yang hijau bertukar warna;
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.
Memandang aku, ke bawah memandang;Tampaklah Hutan, rimba, dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula;
Langit yang hijau bertukar warna;
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.
Sesayup
mata, hutan semata;
Bergunung bukit, lembah sedikit;
Jauh di sana, disebelah situ,
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
-Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.
Bergunung bukit, lembah sedikit;
Jauh di sana, disebelah situ,
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
-Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.
Pada
batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala,
Itulah laut, samudera Hindia,
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai,
Ia memekik berandai-randai :
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala,
Itulah laut, samudera Hindia,
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai,
Ia memekik berandai-randai :
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”
Tema : Alam Sumatera
2. Roestam
Effendi
Rostam Effendi dilahirkan pada tahun 1902 dan menulis pada tahun 1924
dengan bukunya yang berjudul bebasari, kemudian disusul dengan buku yang
bejudul percikan permenungan (1926). Penyair ini juga mempunyai sikap
nasionalisme yang tinggi.
·
Ciri khas karya Roestam Effendi
Karya – karya Roestam Effendi
banyak dipengaruhi bahasa Minangkabau, Arab dan Sansekerta serta
perbandingan-perbandingan bahasa Barat.
·
Karya – karya Roestam Effendi diantaranya :
a) Kepada yang Bergurau
O Engkau cucu Adam
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.
Tema
: Kerinduan akan kemerdekaan
b) Mengeluh I
Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.
Tema
: Kepedihan suatu bangsa
c) Cahya Merdeka
Kepada Tanah Airku
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !
Tema
:
3. Sanusi Pane
Sanusi Pane dilaahir di Muara Sipongi, Sumatera
Utara, 14 November 1905 dan meninggal di Jakarta,
2 Januari
1968 pada umur 62 tahun.
Kumpulan puisi Sanusi Pane banyak menulis puisi diantaranya pancaran cita dan
puspa mega.
·
Ciri khas karya Sanusi Pane
Sanusi Pane merupakan sastrawan yang hidup di jaman
Pujangga baru sehingga karya – karya dari
angkatan ini ialah bebas, individualitas, universalistik, dan futuristik.
·
Karya – karya Sanusi Pane diantaranya :
a) Teratai
Dalam kebun ditanah airku,
Tumbuh sekuntum bunga teratai,
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.
Akarnya tumbuh di hati dunia,
Daun bersemi laksmi mengarang,
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.
Teruslah, o Teratai Bahagia,
Berseri di kebun indonesia,
Biar sedikit penjaga taman.
Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat,
Engkaupun turut menjaga Zaman.
(Sanoesi Pane, 1929)
Tema :
Seseorang yang menjaga bumi Indonesia dengan ajarannya yang bersifat
kebangsaan.
b) Dibawa gelombang
Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak
berkawan,
Entah kemana aku tak tahu.
Jatuh
di atas bintang kemilau,
Seperti
sudah berabad-abad,
Dengan damai mereka meninjau,
Kehidupan bumi, yang kecil amat.
Aku bernyanyi dengan suara,
Seperti bisikan angin di daun;
Suaraku hilang dalam udara,
Dalam laut yang beralun-alun.
Alun membawa hidupku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu.
Tema : Kepasraan seseorang dalam
hidupnya.
c) Tanah Karangan
Alam
muram di muka sekarang,
Tempat tertinggal, tidak berhawa,
Penyapu puncak raksasa karang,
Tegak di sana serasa mendakwa.
Tempat tertinggal, tidak berhawa,
Penyapu puncak raksasa karang,
Tegak di sana serasa mendakwa.
Hijau ta’ ada tumbuh
di batu,
Seluas sejauh pandangan mata,
Warna terlihat hanyalah satu :
Kelabu berduka, itu semata.
Seluas sejauh pandangan mata,
Warna terlihat hanyalah satu :
Kelabu berduka, itu semata.
Burung ta’ ada
bernyanyi terbang.
Hanya gaung terdengar menyahut,
Kalau berseru meminta subur.
Di sini ta’ dapat harap kembang.
Semua tertutup bayang maut.
Di sini benua pintu kubur.
Hanya gaung terdengar menyahut,
Kalau berseru meminta subur.
Di sini ta’ dapat harap kembang.
Semua tertutup bayang maut.
Di sini benua pintu kubur.
Tema
:
4. Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah
Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura,
Langkat,
Sumatera
Timur, 28 Februari 1911 danmeninggal di Kuala Begumit, 20 Maret
1946 pada umur 35 tahun).
Karyanya yang terkenal adalah nyanyi puisi dan buah rindu.
·
Ciri khas karya Amir Hamzah
Salah
satu ciri yang menonjol dari puisi-puisi Amir Hamzah adalah kuatnya pengaruh
dari pujangga sufi. Dimana agama dan sejarah sangat mempengaruhinya. Hal ini
membangun kesan dalam puisi-puisinya terdapat sesuatu yang mistik, tentu hal
ini erat kaitannya dengan hubungan manusia dengan penciptanya.
Selain
itu ciri khas puisi-puisi Amir Hamzah tampak dalam isinya yang sebagian besar
berisi akan kerinduan dan kesedihan. Karyanya juga mengandung unsur sufistik,
dimana merupakan hasil refleksi pribadi akan hubungannya dengan Tuhan.
·
Karya – karya Amir Hamzah diantaranya :
a)
Berdiri Aku – Puisi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah
Berdiri aku
di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
Angin pulang
menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.
Benang raja
mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.
Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Tema : Apapun
yang terjadi dalam hidup kita ini harus mernyerahkan terhadap Tuhan karena
hanya dialah yang mampu memberi kepastian dalam kahidupan ini.
b) Padamu Jua
Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah
kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau
cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu
sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Matahari
bukan kawanku
Tema : Tuhan
c) Buah Rindu
Kusangka
cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri ….
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Rupanya melur telah diseri ….
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.
Kuharap
cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari ….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Belum tahu sinar matahari ….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.
Kupohonkan
cempaka
Harum mula terserak ….
Melati yang ada
Pandai tergelak ….
Harum mula terserak ….
Melati yang ada
Pandai tergelak ….
Tema : Keterasingan
dan kesepian.
5. WS Rendra
WS Rendra adalah seorang penyair
kenamaan yang dimiliki Indonesia. Ia dilahirkan di Solo pada tanggal 7 November
1935. Nama lahir WS Rendra adalah Willibrordus Surendra Broto, ayahnya bernama
R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya bernama Raden Ayu Catharina
Ismadillah.
WS Rendra memang dilahirkan
dikeluarga yang kental akan seni, tak heran jika darah seni sangat mudah
merasuk dalam diri Rendra. Ayahnya adalah seorang dramawan yang merangkap
sebagai guru Bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sebuah sekolah Katolik di
Solo, sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi yang banyak di undang oleh
Keraton Surakarta.
·
Ciri khas karya WS Rendra
Diksi
yang digunakan merupakan diksi atau pilihan kata-kata konotatif dan kata-kata
yang menunjukkan ciri khas Rendra sebagai penyair yang berlatar belakang budaya
jawa yang diungkapkan melalui susunan kata estetik, sehingga menimbulkan daya
sugesti tinggi, seperti adanya rasa cinta, bahagia serta kegelisahan.
·
Karya – karya WS Rendra diantaranya :
a) Serenada Kelabu
Bagai daun yang melayang.
Bagai burung dalam angin.
Bagai ikan dalam pusaran.
Ingin kudengar beritamu!
Ketika melewati kali
terbayang gelakmu.
Ketika melewati rumputan
terbayang segala kenangan.
Awan lewat indah sekali.
Angin datang lembut sekali.
Gambar-gambar di rumah penuh arti.
Pintu pun kubuka lebar-lebar.
Ketika aku duduk makan
kuingin benar bersama dirimu.
Tema
: Kerinduan yang mendalam pada diri seseorang
b) Makna Sebuah Titipan
Sering kali aku
berkata, ketika orang memuji milikku
bahwa
sesungguhnya ini hanya titipan
bahwa
mobiku hanya titipan-Nya
bahwa
rumahku hanya titipan-Nya
bahwa
hartaku hanya titipan-Nya
bahwa
putraku hanya titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah
bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk
apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus
kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah
aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika
diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut
itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
kusebut dengan panggilan apa saja untuk
melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika
aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku
ingin lebih banyak harta,
ingin
lebih banyak mobil,
lebih
banyak rumah,
lebih
banyak popularitas,
dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah
semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah
keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku
rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan
Nikmat
dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan
Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan
baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana
dan keberuntungan sama saja”
Tema : Ketuhanan
c) Tuhan Aku Cinta PadaMu
Aku
lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tema
: Ketuhanan (religius), yaitu perasaan ingin mendekatkan diri seseorang kepada
Tuhannya saat kondisinya sedang sakit.
6. Chairil
Anwar
Chairil Anwar
(lahir di Medan,
Sumatera
Utara, 26
Juli 1922 – meninggal
di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26
tahun), dijuluki sebagai "Si
Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku),
adalah penyair
terkemuka Indonesia.
Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani
dan Rivai
Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan
'45 sekaligus puisi modern Indonesia.
·
Ciri khas karya Chairil Anwar
Puisi
lama karya Chairil Anwar sangat kaya akan khiasan-khiasan tajam dan menikam.
Diantara gaya khasnya yang berpuisi adalah menggunakan warna-warna kuning,
hijau, lembayung dan sebagainya yang merupakan representasi dari sikap hidup,
gagasan serta perbuatan yang selalu muncul dalam sajak-sajaknya. Puisi Chairil
Anwar merupakan ungkapan gejolak batin dari sang penyair dan tidak mudah
menetukan makna dari puisi-puisinya karena setiap orang selalu menemukan
penafsiran yang berbeda tentang puisi Chairil Anwar.
·
Karya – karya Chairil Anwar diantaranya
:
a) AKU
Kalau
sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Tema : semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.
b) Kesabaran
Aku tak bisa
tidur
Orang
ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh
mengabur
Kelam
mendinding batu
Dihantam
suara bertalu-talu
Di
sebelahnya api dan abu
Aku hendak
bicara
Suaraku
hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak
jadi apa-apa!
Ini dunia
enggan disapa, ambil perduli
Keras
membeku air kali
Dan hidup
bukan hidup lagi
Kuulangi
yang dulu kembali
Sambil
bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu
reda yang mesti tiba
Tema
: Sosial,
karena menceritakan kehidupan sosial penyair yang kemugkinan besar berusaha
sabar dalam menghadapi orang lain.
c)
Do’a
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Tema : Renungan diri kepada Tuhan.
7. Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri (lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941) adalah pujangga Indonesia terkemuka. Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.
· Cirikhas karya Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri memiliki ciri khusus dalam penggunaan kata-kata khas seperti: ngiau, huss, puss, tiarap harap, burung paling sayap, laut paling larut, tanah paling pijak, renyai, sangsai, ngilu, puri pura-puraku, anu, bajingan, tai, pukimak, duri sepi, dupa rupa, menyan luka, pot, pagut, dukangiau, duhai sangsai, waswas, o bolong, dan sebagainya. Kata-kata yang dipilih Sutardji tersebut kurang lazim digunakan dalam puisi Indonesia, dalam puisinya banyak kata-kata yang tidak bermakna diberi makna baru; dan juga digunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang bersifat estetis.
· Karya – karya Sutardji Calzoum Bachri diantaranya :
a) Afrika Selatan
Kristos pengasih putih wajah.
--kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja dari marmer--
Orang putih bersorak: “Hosanah!”
Dan ramai berarak ke sorga
Tapi kulitku hitam.
Dan sorga bukan tempatku berdiam.
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu:
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan.
Mereka membuat rel dan sepur
hotel dan kapal terbang
Mereka membuat sekolah dan kantorpos
gereja dan restoran.
Tapi tidak buatku.
Tidak buatku.
Diamku di batu-batu pinggir kota
di gubug-gubug penuh nyamuk
di rawa-rawa berasap.
Mereka boleh memburu
Mereka boleh membakar
Mereka boleh menembak
Tetapi isteriku terus berbiak
seperti rumput di pekarangan mereka
seperti lumut di tembok mereka
seperti cendawan di roti mereka.
Sebab bumi hitam milik kami
Tambang intan milik kami.
Gunung natal milik kami.
Mereka boleh membunuh.
Mereka boleh membunuh.
Mereka boleh membunuh.
Sebab mereka kulit putih
dan kristos pengasih putih wajah.
Tema : Diskriminasi atau ketidakadilan
b) Tragedi Winka dan Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
Tema : perjalanan hidup yang sesngsara, penuh lika-liku, dan marabahaya.
Tragedi
tersebut mulai tejadi ketika “kawin” dan “kasih” yang dulu terjalin sangat
indah dan tidak ada halangan suatu apapun, berubah menjadi “winka” dan “sihka”
yang berakhir dengan perceraian dan rasa benci, sehingga benar-benar memisahkan
antara perkawinan ka dan sih yang akhirnya berujung pada sebuah kematian.
c) Tapi
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah!
Tema : Sebuah pertentangan
antara aku dan kau.
8. Sapardi Djoko Damono
Prof.
Dr.
Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta,
20 Maret
1940) adalah seorang pujangga
Indonesia
terkemuka.
·
Ciri khas karya Sapardi Djoko Damono
Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang
menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.
Beliau juga memiliki ciri khas dalam membuat puisi yaitu membebaskan kata-kata
hingga tidak lagi terikat dengan makna yang sebenarnya bahkan tidak sedikit
kata-kata yang digunakan dalam puisinya tidak dapat diterjemahkan oleh kamus
manapun. Hal ini justru membuat karya-karya sulit untuk dipahami orang awam.
·
Karya – karya Sapardi Djoko Damono diantaranya :
a) Huhan di Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Tema : Kehidupan
b)
Pada suatu
hari nanti
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu
hari nanti
Suaraku tak
terdengar lagi
Tapi di
antara larik-larik sajak ini
Kau akan
tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
Tema : harapan seseorang pada
masa yang akan datang.
c)
Perahu
Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat
perahu kertas
dan
kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang,
dan perahumu
bergoyang menuju lautan.
“Ia akan
singgah di Bandar-bandar besar,” kata seorang
lelaki tua.
Kau sangat gembira, pulang dengan
berbagai
gambar warna-warni di kepala. Sejak itu
kau pun
menunggu kalau-kalau ada kabar dari
perahu yang
tak pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya
kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah
kupergunakan perahumu itu dalam sebuah
Banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit”
Tema : KeTuhanan
yaitu ketulusan dan keikhlasan manusia dalam mengabdi kepada Tuhan.
9. Sitor
Situmorang
Sitor Situmorang
(lahir di Harianboho, Tapanuli Utara,
Sumatera Utara,
2 Oktober
1923) adalah wartawan,
sastrawan,
dan penyair Indonesia.
Ayahnya adalah Ompu Babiat Situmorang
yang pernah berjuang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.
·
Ciri khas karya Sitor Situmorang
Karya Sitor
Situmorang hadir dengan bahasa puisi antara dunia timur dan dunia barat. Sitor
menghabiskan 20 tahun hidupnya di Paris dan Belanda sebagai dosen di
Universitas Leiden. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap karya Sitor, maka
tidak jarang beberapa karya sastra Sitor menggunakan judul dalam bahasa asing
·
Karya – karya Sitor Situmorang diantaranya :
a)
Malam
Lebaran
Bunga
di atas kuburan
Tema : Kemanusiaan
yang mengangkat latar malam lebaran saat kebahagiaan menindih kesengsaraan
sehingga kesengsaraan itu tidak terlihat sama sekali karena tertutup oleh
kebahagiaan yang muncul saat malam lebaran.
b)
Lereng
Merapi
Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu….
Tema : Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu….
c) Kaliurang Tengah Hari
Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini
Tunggulah, aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini
Tunggulah, aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi
Tema : Penantian
10. Subagio
Sastrowardojo
Subagio Sastrowardoyo
(lahir di Madiun, Jawa Timur,
1 Februari
1924 – meninggal
di Jakarta, 18 Juli 1995)
adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek
dan esei,
serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur
perusahaan penerbitan Balai Pustaka.
·
Ciri khas karya Subagio Sastrowardojo
Puisi-puisi
Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam,
dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang
digunakannya secara dewasa dan matang.
·
Karya – karya Subagio Sastrowardojo diantaranya
:
a)
Bulan Ruwah
Kubur kita
terpisah dengan tembok tinggi
Sebab aku
punya tuhan, dia orang kapir.
Di
yaumulakhir
Roh kita
dari kubur
Akan keluar
berupa kelelawar
Dan berebut
menyebut nama Allah
Dengan cicit
suara kehausan darah.
Kita sudah
siap dengan daftartanya:
Tuhan, ya
robbilalamin!
Adakah kau
Islam atau Kristen
Apakah
Kitabmu: Quran atau Injil
Apakah
bangsamu: seorang rus, cina atau jawa?
Orang rus
itu komunis yang menghina nabi dan agama.
Orang cina
suka makan babi. Itu terang jadi larangan.
Orang jawa
malas sembahyang dan gemar pada mistik.
Apakah
bahasamu, apakah warnakulitmu, apakah asalmu?
Apakah kau
pakai peci dan sarung pelekat
Atau
telanjang seperti budak habsyi hitampekat
Atau seperti
bintang film berpotret di kamar mandi?
Antara tanda
kurung: apakah dia punya tuhan?
Daftartanya
kita tandai dengan cakaran hitam
Seribu
tangan
Tetapi kalau
tuhan tinggal diam seperti tugu
Kita akan
bertindak desak keputusan:
Kita
rubuhkan batu bisu
Dengan kutuk
dan serapah.
Kita kembali
bergantung di dahan
Dan bermimpi
tentang sorga dan tuhan
Yang mirip
rupa kita sejak semula:
Kelelawar
bercicit kehausan darah.
Tema
: Kematian
b)
Batara Kala
Telah kuberikan semua yang diminta
Aku ditaruh di atas meja lantas
dikelupas
Kulit demi kulit
Juga dagingku selapis demi selapis
Juga tulangku dipatahkan
sepotong-sepotong
Dengan tak sabar direnggut jantungku
Dari dada
Darah bercucuran di kamar bedah
Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di
remukkan
Dengan tangannya yang kuasa sehingga
tak ada
Yang tersisa
Kecuali nyawa
Dan itu dilahapnya seketika
Tema
: Perjuangan (mahasiswa yang berdemokrasi atau berorasi)
c)
Do’a di
Medan Laga
Berilah
kekuatan sekeras baja
Untuk
menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini
Berilah
kesabaran seluas angkasa
Untuk
mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini
Berilah
kemauan sekuat garuda
Untuk
melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini
Berilah
perasaan selembut sutra
Untuk
menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini
Tema
: perjuangan dan pertahanan hidup
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussemngat kaka buat post postnya :D
BalasHapus