10    PENYAIR INDONESIA DAN KARYANYA

1.    Muhammad Yamin
Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto pada tanggal 23 Agustus 1903 dan meninggal dunia pada tanggal 26 Oktober 1962. Karya-karyanya diantaranya tanah air dan bahasa, bangsa. Oleh beberapa pengamat dan peninjau sastra, dianggap sebagai pemula penyair dalam khasanah sastra Indonesia modern.
·         Ciri khas karya M. Yamin :
Berdasarkan dari judul karya-karyanya beliau termasuk seorang nasionalis yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air.
·         Karya – karya Muhammad Yamin diantaranya :
a)      Bukit Barisan
            Hijau tampaknya Bukit Barisan
Berpuncak Tanggamus dengan Singgalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Lamun hati terkenal pulang
Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengar kampung memanggil taulan
Rasakan hancur tulang belulang
Habislah tahun berganti jaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang
Di tengah malam terjaga badan
Terkenang bapak sudah berpulang
Berteduh selasih kemboja sebatang
            Tema : Perasaan seorang penggembala
b)     Gembala
Perasaan siapa tidak kan nyata
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja di tengah dendang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan elok permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengar puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau
Tema : Nasib seorang penggembala
c)      Tanah Air
Pada batasan, bukit Barisan,
Memandang aku, ke bawah memandang;Tampaklah Hutan, rimba, dan ngarai;
Lagipun sawah, sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula;
Langit yang hijau bertukar warna;
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.

Sesayup mata, hutan semata;
Bergunung bukit, lembah sedikit;
Jauh di sana, disebelah situ,
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga,
Bukannya janat bumi kedua
-Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.

Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala,
Itulah laut, samudera Hindia,
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai,
Ia memekik berandai-randai :
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”
            Tema : Alam Sumatera

2.    Roestam Effendi
Rostam Effendi dilahirkan pada tahun 1902 dan menulis pada tahun 1924 dengan bukunya yang berjudul bebasari, kemudian disusul dengan buku yang bejudul percikan permenungan (1926). Penyair ini juga mempunyai sikap nasionalisme yang tinggi.
·         Ciri khas karya Roestam Effendi
Karya – karya Roestam Effendi banyak dipengaruhi bahasa Minangkabau, Arab dan Sansekerta serta perbandingan-perbandingan bahasa Barat.
·         Karya – karya Roestam Effendi diantaranya :
a)      Kepada yang Bergurau
O Engkau cucu Adam
Yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
Alangkah senang sentosamu,
Menyedapi buah yang lezat, bertangkai di Pohon Asmara
O Engkau Ratna alam,
Yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita,
Soraikan gelak suaramu,
Dipeluki tangan yang lembut, dicium, di riba Permata.
O Engkau makhluk Tuhan,
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
Sekalipun tuan dalam bergurau.
Jauh bersunyi tolan
Seorang beta dalam berduka, tiap ketika,
Merindukan tanah dapat merdeka.
            Tema : Kerinduan akan kemerdekaan

b)     Mengeluh I
Bukanlah beta berpijak bunga,
Melalui hidup menuju makam
Setiap saat disimbur sukar,
Bermandi darah dicucurkan dendam.
Menangis mata melihat makhluk,
Berharta bukan berhak pun bukan
Inilah nasib negeri ‘nanda,
Memerah madu menguruskan badan.
Ba’mana beta bersuka cita,
Ratapan ra’yat riuhan gaduh,
Membobos masuk menyatu kalbuku.
Ba’mana boleh berkata beta,
Suara sebat sedanan rusuh,
Menghimpit madah, gubahan cintaku.
            Tema : Kepedihan suatu bangsa

c)      Cahya Merdeka
Kepada Tanah Airku
Sekali aku terbangun dalam cerkammu,
Dari dalam jurang yang gelap hitam
Kau renggut aku hingga akan jiwaku,
Kau angkat aku membubung
menatap wajah Suria Merdeka .....
Buta aku disorot nikmat sinar gemilang,
diseret hanyut gelora arusmu,
Kemudian kau lemparkan daku
ke pantai tindakan nyata !
Telah kau remuk aku
bersatu-padu dengan sinarmu
Ta' mungkin k aku 'kan surut lagi
sampai airmu lipur cahyamu dalam matiku .......
Akan mengembus angin
dari tepi kuburku ke tiap penjuru,
membawa nikmat cahya merdeka ......
Dan sujudlah aku
di hadirat Tuhanku menunggu
putusan akhirku di dunia baka !
            Tema :

3.    Sanusi Pane
Sanusi Pane dilaahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905 dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968 pada umur 62 tahun. Kumpulan puisi Sanusi Pane banyak menulis puisi diantaranya pancaran cita dan puspa mega.
·         Ciri khas karya Sanusi Pane
Sanusi Pane merupakan sastrawan yang hidup di jaman Pujangga baru sehingga karya – karya dari angkatan ini ialah bebas, individualitas, universalistik, dan futuristik.
·         Karya – karya Sanusi Pane diantaranya :
a)    Teratai
Dalam kebun ditanah airku,
Tumbuh sekuntum bunga teratai,
Tersembunyi kembang indah permai,
Tidak terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia,
Daun bersemi laksmi mengarang,
Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, o Teratai Bahagia,
Berseri di kebun indonesia,
Biar sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat,
Engkaupun turut menjaga Zaman.
(Sanoesi Pane, 1929)
Tema : Seseorang yang menjaga bumi Indonesia dengan ajarannya yang bersifat kebangsaan.

b)    Dibawa gelombang
Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,                  
Entah kemana aku tak tahu.
                                  
                   Jatuh di atas bintang kemilau,
                   Seperti sudah berabad-abad,
Dengan damai mereka meninjau,
Kehidupan bumi, yang kecil amat.
                                               
Aku bernyanyi dengan suara,
Seperti bisikan angin di daun;
Suaraku hilang dalam udara,
Dalam laut yang beralun-alun.

Alun membawa hidupku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah kemana aku tak tahu.
            Tema : Kepasraan seseorang dalam hidupnya.

c)    Tanah Karangan
Alam muram di muka sekarang,
Tempat tertinggal, tidak berhawa,
Penyapu puncak raksasa karang,
Tegak di sana serasa mendakwa.
Hijau ta’ ada tumbuh di batu,
Seluas sejauh pandangan mata,
Warna terlihat hanyalah satu :
Kelabu berduka, itu semata.

Burung ta’ ada bernyanyi terbang.
Hanya gaung terdengar menyahut,
Kalau berseru meminta subur.
Di sini ta’ dapat harap kembang.
Semua tertutup bayang maut.
Di sini benua pintu kubur.
                        Tema :



4.    Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 danmeninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun). Karyanya yang terkenal adalah nyanyi puisi dan buah rindu.
·         Ciri khas karya Amir Hamzah
Salah satu ciri yang menonjol dari puisi-puisi Amir Hamzah adalah kuatnya pengaruh dari pujangga sufi. Dimana agama dan sejarah sangat mempengaruhinya. Hal ini membangun kesan dalam puisi-puisinya terdapat sesuatu yang mistik, tentu hal ini erat kaitannya dengan hubungan manusia dengan penciptanya.
Selain itu ciri khas puisi-puisi Amir Hamzah tampak dalam isinya yang sebagian besar berisi akan kerinduan dan kesedihan. Karyanya juga mengandung unsur sufistik, dimana merupakan hasil refleksi pribadi akan hubungannya dengan Tuhan.
·         Karya – karya Amir Hamzah diantaranya :
a)      Berdiri Aku – Puisi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas.

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
dimabuk wama berarak-arak.

Dalam rupa maha sempuma
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Tema : Apapun yang terjadi dalam hidup kita ini harus mernyerahkan terhadap Tuhan karena hanya dialah yang mampu memberi kepastian dalam kahidupan ini.

b)     Padamu Jua
Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara dibalik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Matahari bukan kawanku
            Tema : Tuhan

c)      Buah Rindu
Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri ….
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari ….
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.

Kupohonkan cempaka
Harum mula terserak ….
Melati yang ada
Pandai tergelak ….
            Tema : Keterasingan dan kesepian.



5.    WS Rendra
WS Rendra adalah seorang penyair kenamaan yang dimiliki Indonesia. Ia dilahirkan di Solo pada tanggal 7 November 1935. Nama lahir WS Rendra adalah Willibrordus Surendra Broto, ayahnya bernama R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah. 
WS Rendra memang dilahirkan dikeluarga yang kental akan seni, tak heran jika darah seni sangat mudah merasuk dalam diri Rendra. Ayahnya adalah seorang dramawan yang merangkap sebagai guru Bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sebuah sekolah Katolik di Solo, sedangkan ibunya adalah seorang penari serimpi yang banyak di undang oleh Keraton Surakarta.
·         Ciri khas karya WS Rendra
Diksi yang digunakan merupakan diksi atau pilihan kata-kata konotatif dan kata-kata yang menunjukkan ciri khas Rendra sebagai penyair yang berlatar belakang budaya jawa yang diungkapkan melalui susunan kata estetik, sehingga menimbulkan daya sugesti tinggi, seperti adanya rasa cinta, bahagia serta kegelisahan.
·         Karya – karya WS Rendra diantaranya :
a)      Serenada Kelabu
Bagai daun yang melayang.
Bagai burung dalam angin.
Bagai ikan dalam pusaran.
Ingin kudengar beritamu!

Ketika melewati kali
terbayang gelakmu.
Ketika melewati rumputan
terbayang segala kenangan.
Awan lewat indah sekali.
Angin datang lembut sekali.
Gambar-gambar di rumah penuh arti.
Pintu pun kubuka lebar-lebar.
Ketika aku duduk makan
kuingin benar bersama dirimu.
            Tema : Kerinduan yang mendalam pada diri seseorang

b)     Makna Sebuah Titipan
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan
bahwa mobiku hanya titipan-Nya
bahwa rumahku hanya titipan-Nya
bahwa hartaku hanya titipan-Nya
bahwa putraku hanya titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
            Tema : Ketuhanan

c)      Tuhan Aku Cinta PadaMu
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tema : Ketuhanan (religius), yaitu perasaan ingin mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya saat kondisinya sedang sakit.

6.    Chairil Anwar
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
·         Ciri khas karya Chairil Anwar
Puisi lama karya Chairil Anwar sangat kaya akan khiasan-khiasan tajam dan menikam. Diantara gaya khasnya yang berpuisi adalah menggunakan warna-warna kuning, hijau, lembayung dan sebagainya yang merupakan representasi dari sikap hidup, gagasan serta perbuatan yang selalu muncul dalam sajak-sajaknya. Puisi Chairil Anwar merupakan ungkapan gejolak batin dari sang penyair dan tidak mudah menetukan makna dari puisi-puisinya karena setiap orang selalu menemukan penafsiran yang berbeda tentang puisi Chairil Anwar.
·         Karya – karya Chairil Anwar diantaranya :
a)      AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Tema : semangat perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan.

 

b)     Kesabaran

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak bicara
Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba
            Tema : Sosial, karena menceritakan kehidupan sosial penyair yang kemugkinan besar berusaha sabar dalam menghadapi orang lain.

c)      Do’a
Tuhanku
Dalam termenung
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di Pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

            Tema : Renungan diri kepada Tuhan.

 

7.    Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (lahir di Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941) adalah pujangga Indonesia terkemuka.  Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

·         Cirikhas karya Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri memiliki ciri khusus dalam penggunaan kata-kata khas seperti: ngiau, huss, puss, tiarap harap, burung paling sayap, laut paling larut, tanah paling pijak, renyai, sangsai, ngilu, puri pura-puraku, anu, bajingan, tai, pukimak, duri sepi, dupa rupa, menyan luka, pot, pagut, dukangiau, duhai sangsai, waswas, o bolong, dan sebagainya. Kata-kata yang dipilih Sutardji tersebut kurang lazim digunakan dalam puisi Indonesia, dalam puisinya banyak kata-kata yang tidak bermakna diberi makna baru; dan juga digunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang bersifat estetis.

·         Karya – karya Sutardji Calzoum Bachri diantaranya :

a)      Afrika Selatan

Kristos pengasih putih wajah.
--kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja dari marmer--
Orang putih bersorak: “Hosanah!”
Dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam.
Dan sorga bukan tempatku berdiam.
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu:
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan.

Mereka membuat rel dan sepur
hotel dan kapal terbang
Mereka membuat sekolah dan kantorpos
gereja dan restoran.

Tapi tidak buatku.
Tidak buatku.

Diamku di batu-batu pinggir kota
di gubug-gubug penuh nyamuk
di rawa-rawa berasap.

Mereka boleh memburu
Mereka boleh membakar
Mereka boleh menembak

Tetapi isteriku terus berbiak
seperti rumput di pekarangan mereka
seperti lumut di tembok mereka
seperti cendawan di roti mereka.
Sebab bumi hitam milik kami
Tambang intan milik kami.
Gunung natal milik kami.

Mereka boleh membunuh.
Mereka boleh membunuh.
Mereka boleh membunuh.
Sebab mereka kulit putih
dan kristos pengasih putih wajah.

            Tema : Diskriminasi atau ketidakadilan

 

b)     Tragedi Winka dan Sihka

 

kawin
           kawin
                      kawin
                                 kawin
                                            kawin
                                                       ka
                                                 win
                                              ka
                                      win
                                  ka
                           win
                      ka
              win
         ka
 winka
                       winka
                                 winka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sihka
                                                                      sih
                                                                  ka
                                                             sih
                                                        ka
                                                   sih
                                               ka
                                          sih
                                      ka
                                 sih
                             ka
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          sih
                                                               ka
                                                                   Ku

Tema : perjalanan hidup yang sesngsara, penuh lika-liku, dan marabahaya.
Tragedi tersebut mulai tejadi ketika “kawin” dan “kasih” yang dulu terjalin sangat indah dan tidak ada halangan suatu apapun, berubah menjadi “winka” dan “sihka” yang berakhir dengan perceraian dan rasa benci, sehingga benar-benar memisahkan antara perkawinan ka dan sih yang akhirnya berujung pada sebuah kematian.

c)      Tapi
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
   wah!

Tema : Sebuah pertentangan antara aku dan kau.

8.    Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka.
·         Ciri khas karya Sapardi Djoko Damono
Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer. Beliau juga memiliki ciri khas dalam membuat puisi yaitu membebaskan kata-kata hingga tidak lagi terikat dengan makna yang sebenarnya bahkan tidak sedikit kata-kata yang digunakan dalam puisinya tidak dapat diterjemahkan oleh kamus manapun. Hal ini justru membuat karya-karya sulit untuk dipahami orang awam.
·         Karya – karya Sapardi Djoko Damono diantaranya :
a)      Huhan di Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
            Tema : Kehidupan

b)     Pada suatu hari nanti
Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini
Kau takkan letih-letihnya kucari
            Tema : harapan seseorang pada masa yang akan datang.
c)      Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas
dan kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang,
dan perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia akan singgah di Bandar-bandar besar,” kata seorang
lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan
berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu
kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari
perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah
Banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit”
Tema : KeTuhanan yaitu ketulusan dan keikhlasan manusia dalam mengabdi kepada Tuhan.

9.    Sitor Situmorang
Sitor Situmorang (lahir di Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 2 Oktober 1923) adalah wartawan, sastrawan, dan penyair Indonesia. Ayahnya adalah Ompu Babiat Situmorang yang pernah berjuang melawan tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII.
·         Ciri khas karya Sitor Situmorang
Karya Sitor Situmorang hadir dengan bahasa puisi antara dunia timur dan dunia barat. Sitor menghabiskan 20 tahun hidupnya di Paris dan Belanda sebagai dosen di Universitas Leiden. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap karya Sitor, maka tidak jarang beberapa karya sastra Sitor menggunakan judul dalam bahasa asing

·         Karya – karya Sitor Situmorang diantaranya :
a)      Malam Lebaran
      Bunga di atas kuburan

Tema : Kemanusiaan yang mengangkat latar malam lebaran saat kebahagiaan menindih kesengsaraan sehingga kesengsaraan itu tidak terlihat sama sekali karena tertutup oleh kebahagiaan yang muncul saat malam lebaran.

b)     Lereng Merapi
Kutahu sudah, sebelum pergi dari sini
Aku Akan rindu balik pada semua ini
Sunyi yang kutakuti sekarang
Rona lereng gunung menguap
Pada cerita cemara berdesir
Sedu cinta penyair
Rindu pada elusan mimpi
Pencipta candi Prambanan
Mengalun kemari dari dataran….
Dan sekarang aku mengerti
Juga di sunyi gunung
Jauh dari ombak menggulung
Dalam hati manusia sendiri
Ombak lautan rindu
Semakin nyaring menderu….
            Tema :


c)      Kaliurang Tengah Hari
Kembali kita berhadapan
Dalam relung sepi ini
Dari seberang lembah mati
Bibirmu berkata lagi
Napasmu mengelus jiwaku
Tersingkap kabut dataran
Dan kutahu di tepi selatan
Laut 'manggil aku berlayar dari sini

Tunggulah, aku akan datang
Biar kelam datang kembali
Dengan angin malam aku bertolak
Ke negeri, kabut tidak mengabur pandang
Mati, berarti kita bersatu lagi
            Tema : Penantian

10. Subagio Sastrowardojo
Subagio Sastrowardoyo (lahir di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924 – meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995)  adalah seorang dosen, penyair, penulis cerita pendek dan esei, serta kritikus sastra asal Indonesia. Selama bertahun-tahun, ia adalah direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka.
·         Ciri khas karya Subagio Sastrowardojo
Puisi-puisi Subagio umumnya dipandang mempunyai bobot filosofis yang tinggi dan mendalam, dan tidak dapat ditafsirkan secara harfiah. Perumpamaan dan lambang digunakannya secara dewasa dan matang.
·         Karya – karya Subagio Sastrowardojo diantaranya :
a)      Bulan Ruwah
Kubur kita terpisah dengan tembok tinggi
Sebab aku punya tuhan, dia orang kapir.

Di yaumulakhir
Roh kita dari kubur
Akan keluar berupa kelelawar
Dan berebut menyebut nama Allah
Dengan cicit suara kehausan darah.

Kita sudah siap dengan daftartanya:
Tuhan, ya robbilalamin!
Adakah kau Islam atau Kristen
Apakah Kitabmu: Quran atau Injil
Apakah bangsamu: seorang rus, cina atau jawa?

Orang rus itu komunis yang menghina nabi dan agama.
Orang cina suka makan babi. Itu terang jadi larangan.
Orang jawa malas sembahyang dan gemar pada mistik.

Apakah bahasamu, apakah warnakulitmu, apakah asalmu?
Apakah kau pakai peci dan sarung pelekat
Atau telanjang seperti budak habsyi hitampekat
Atau seperti bintang film berpotret di kamar mandi?
Antara tanda kurung: apakah dia punya tuhan?

Daftartanya kita tandai dengan cakaran hitam
Seribu tangan
Tetapi kalau tuhan tinggal diam seperti tugu
Kita akan bertindak desak keputusan:
Kita rubuhkan batu bisu
Dengan kutuk dan serapah.

Kita kembali bergantung di dahan
Dan bermimpi tentang sorga dan tuhan
Yang mirip rupa kita sejak semula:
Kelelawar bercicit kehausan darah.
Tema : Kematian

b)     Batara Kala
Telah kuberikan semua yang diminta
Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas
Kulit demi kulit
Juga dagingku selapis demi selapis
Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong
Dengan tak sabar direnggut jantungku
Dari dada
Darah bercucuran di kamar bedah
Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan
Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada
Yang tersisa
Kecuali nyawa
Dan itu dilahapnya seketika
            Tema : Perjuangan (mahasiswa yang berdemokrasi atau berorasi)

c)      Do’a di Medan Laga
Berilah kekuatan sekeras baja
Untuk menghadapi dunia ini, untuk melayani zaman ini
Berilah kesabaran seluas angkasa
Untuk mengatasi siksaan ini, untuk melupakan derita ini
Berilah kemauan sekuat garuda
Untuk melawan kekejaman ini, untuk menolak penindasan ini
Berilah perasaan selembut sutra
Untuk menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini
            Tema : perjuangan dan pertahanan hidup

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer