Sang Pemenang yang Kalah
Oleh : Disa Yulistian


            Sore itu. Langit begitu terang dengan cahaya berwarna oranye, seolah angin menyapu semua awan. Di ufuk barat tersembul matahari yang seolah hampir ditelan bumi. Menyaksikan matahari tenggelam dari dalam kamarku. Ritual inilah yang sudah ku lakukan hampir satu bulan ini. Pandanganku menerawang, seolah terbingkai kisah demi kisah yang sudah ku lalui di langit sana. Kisah yang hampir terbenam dibawa matahari yang tenggelam ditelan bumi.
“Faiz... kebiasaan kamu ya. Kalau tidak dipanggil ke kamar tidak mau keluar. Mbok yo jangan ngeliatan matahari terus. Ayo, sudah ditunggu ustadzah. Persiapan buka dan sholat maghrib.” Kata Siti dengan logat Jawa Tengahnya.
Injih non.. Ini lo sudah mau keluar kamar aku.” Aku menirukan gaya bicaranya.
“Ayo..cepetan. Nanti kamu gak kebagian jatah buka puasa.” Siti menggamnit lenganku dan menarikku keluar kamar.
            Selesai sholat maghrib kami berbuka puasa bersama - sama. Dengan menu seadanya kami selalu menyantap makanan dengan lahap. Terlihat muka para santriwati yang selalu bersyukur dengan apa yang telah tersedia di meja makan. Memang begitulah yang ustadzah kami ajarkan. Meskipun makanan yang tersedia bermacam – macam kalau kita tidak bersyukur tidak akan kelihatan nikmat. Berbeda kalau kita selalu merasa bersyukur dengan keadaan kita. Meskipun yang terhidang hanya sayur bening dan tempe ditambah sambal terasi seperti sekarang, kalau kita selalu bersyukur rasanya pasti nikmat. Sementara aku hanya mengaduk – aduk nasi di piring. Bukan karena tidak bersyukur dengan menu yang sudah terhidang. Pikiranku tidak berada disini, tidak di Pondok Gontor Putri yang berada di kota Ngawi. Tetapi pikiranku jauh melesat 100km ke arah barat. Tepatnya di Kota Kediri. Ada sisi suram tentang kota itu sehingga membuatku terlempar ke tempat ini. Tempat yang dulunya aku fikir sebagai tempat 1001 macam aturan. Ternyata kenyataannya berbanding terbalik. Memori otakku memuat ulang kisah yang terjadi sekitar tiga bulan yang lalu.
    
***
            Suasana begitu panas saat kami dan berjuta dari kawan kami dikeluarkan dari tempat yang bernama vas deverens untuk berlomba menuju tempat yang akan kami tinggali selama sembilan bulan dan menjadikan kami makhluk yang sempurna. Berjuta dari kami, hanya satu yang akan menang untuk mendiami rahim dan yang lainnya kalah.
Sial! Aku keluar pada barisan yang bisa dibilang paling buncit. Namun aku mengerahkan semua tenagaku untuk berlari mendekati sel telur. Kawan kami yang lain ada yang sudah mati sebelum sempat berlari jauh karena tidak tahan berada dalam keadaan yang terlampau panas. Tak terhitung banyaknya kawan yang aku dahului. Tak jarang pula aku menerobos diantaranya agar tidak terdahului oleh yang lainnya. Tinggal selangkah lagi. Dan, Hap!! Kini kepalaku sudah terbenam dalam dinding sel telur yang sudah masak. Dan itu pula yang menandakan bahwa aku Sang Pemenang. Secara otomatis, jutaan temanku yang lainnya akan mati.
“Disinilah aku akan tumbuh dan menjadi makhluk Allah yang sempurna.” Batin Sang Pemenang.
            Sudah tujuh hari aku menetap di sini, dan sekarang aku telah sampai di dalam rongga rahim dan melekatkan diri di dinding rahim.

     Sayangku (ponsel)
Me :
ü  Kamu dimana? Aku mau bicara penting!
Sayangku :
ü  Aku masih ada urusan sama teman – teman. Bicara apa syg?
Me :
ü  Kalau urusannya sudah kelar, aku tunggu di rumah makan biasanya.
Sayangku :
ü  Oke.. tunggu sms dariku ya :*
Me :
ü  Sip (y)

    


     “Kok lama banget datangnya habis darimana aja sih?” gerutuku.
“Kan aku udah bilang tadi kalau harus nganter Rahmat dulu. Jadi gampang marah banget kamu akhir – akhir ini. Padahal biasanya aku telat 15 menit juga udah biasa.” Taufik menimpali.
“Ya maaf deh sayang. Aku kan nunggunya sendirian. Oh ya, kamu lapar kan? Aku udah pesen makanan kayak biasanya.”
“Iya. Apa yang pengen kamu omongin ke aku? Kayak yang penting banget aja, bicara lewat sms kan bisa syg.”
“Ehmm..eh, maaf kalau aku maksa kamu buat ketemu. Aku mau ngomong nih, tapi jangan marah ya.” Ekspresiku mulai menampakkan keseriusan.
“Iya syg.. iya.” Ucap Taufik sambil mencolek hidungku seperti biasa.
“Aku telat.” Kataku sembari menundukkan kepala.
“Jangan ngawur ah. Palingan juga mundur dari jadwal yang sebelumnya.” Kata taufik dengan enteng sambil menyeruput minuman.
“Aku serius.”
“Dikira aku gak serius.”
“Trus, kamu gak mikir? Gak takut?”
“Syg.. aku udah hati – hati. Percaya sama aku. Ditunggu dulu, pasti beberapa hari lagi juga bakal datang bulan.” Kata taufik sembari menggenggam tanganku dan menatapku lekat – lekat.
“Janji bakal gak terjadi apa – apa?” Air mataku sudah hampir jatuh.
“Iya janji. Aku juga gak mau hal itu terjadi. Kita masih sekolah dan masa depan kita masih jauh.” Taufik meyakinkan.
“Ya udah.. tapi beneran ya?”
Mataku fokus memandang Taufik seolah bilang Yakinkan aku kalau semua pasti baik – baik saja. Seolah Taufik mengerti apa yang aku fikirkan. Dia mencoba menguatkanku dengan mempererat genggamannya.
     “Ayo, makan dulu. Tenangkan fikiranmu.”
     “Kamu aja yang makan. Aku gak selera.” Kataku menimpali.

            Sejak pertemuanku siang itu dengan Taufik, perasaanku semain tidak tenang. Menunggu hari berganti sama rasanya menunggu pengumuman kelulusan. Hati selalu berdebar seolah pikiran tidak bisa diajak untuk berfikir rileks barang semenit saja. Bahkan ajakan Ibu ke pasar pun aku tolak. Padahal aku sangat menyukai pasar di pagi hari dengan segala keributan pedagang dan penjualnya. Akhir – akhir ini aku memang malas melakukan apapun. Bahkan sehari tak makanpun, aku tidak bakal merasa lapar. Tidak selera meskipun terhidang pepes pindang kesukaanku.

***

            Sudah 2 minggu aku berada di sini. Membuahi sel telur dan wujudku sekarang sudah terbelah menjadi dua. Aku terus membelah dan sel telur akan bergerak di dalam lubang falopi menuju rahim. Setelah berkembang sebanyak 32 namaku berubah menjadi morula. Pada saat – saat inilah aku mulai berkembang. Sampai saat ini aku masih merasa baik – baik saja. Cuma sedikit merasa kekurangan nutrisi. Aku tidak terlalu mempermaslahkan itu karena aku mencoba mengerti kalau Ibundaku sedang mengalami masa yang sulit untuk beradaptasi dengan hadirnya aku, Sang Pemenang. Aku juga berfikir sampai sejauh ini aku masih bisa bertahan dengan kekebalan tubuhku. Satu hal yang juga aku yakini, Ibundaku pasti menantikan kehadiranku dan memberikan yang terbaik untuk Sang Pemenang seperti aku.

***

     Mala (ponsel)
     Me :
ü  Say.. dimana?
Mala :
ü  Rumah say.. ada apa?
Me :
ü  Aku mau cerita.
Mala :
ü  Kesini aja. Tak tunggu dirumahku.
Me :
ü  Kamu ga lagi sibuk? Oke, aku meluncur.

“Faiz..datang – datang kok mukanya kusut gitu. Sana, disetrika dulu.” Mala mencoba meledekku.
     “Basi ah..” Ledekan Mala tak mempan. Pikiranu masih kalut.
“Iya deh.. Faiz yang cantik. Sahabatmu Mala siap mendengarkan. Pasti soal Taufik lagi ya? Putus lagi? Alah, pasti besok kalian juga bakal balikan lagi.” Mala nyerocos sebelum aku sempat bilang sepatah katapun.
     “Mal..aku serius.”
     “Aku juga serius sekarang. Apa?”
     “Aku telat.”
“Telat apa Iz? Telat makan? Atau telat datang saat kalian kencan?” Mala masih mencoba bergurau.
“Malaaa........!!!!!” Aku lempar Dia bantal.
“Hahaa, oke oke, aku dua rius sekarang. Sebentar, telat?? Maksutmu telat datang bulan?”
“Iya Mal..telat apa lagi?”
“Serius kamu?” Mala menunjukkan ekspresi ketidakpercayaanya.
“Iya Mala.. aku dua rius juga nih sekarang. Gimana dong?” Aku mulai gelisah.
“Udah kamu tespack belum?”
“Belum.”
“Yah..faiz.... itu namanya belum tentu telaat!!” Sekarang gantian Mala yang melempariku bantal.
“Kalau bukan telat apa namanya? Buktinya sampai sekarang aku belum juga kedatangan tamu. Padahal sudah lewat lima hari yang lalu dari jadwal bulan kemarin. Akhir – akhir ini aku juga ngrasa gak nafsu makan deh Mal..” Kataku bertambah gelisah.
“Emang kamu gak pernah punya nafsu makan. Lihat aja badanmu. Seperti musim panas berkepanjangan. Kering kerontang.”
“Lha trus aku harus bagaimana?”
“Ya kamu beli tespack trus ya dicek. Masak aku juga harus bilangin bagaimana cara menggunakan tespacknya?” Ujar Mala yang mencoba menunjukkan keseriusan ekspresi wajahnya.

***

            Masih teringat jelas dalam memori otakku. Kala itu sore hari di tanggal 27 April. Garis merah dua yang berada di benda kecil memanjang seolah meluluh lantakkan duniaku. Seketika itu, badanku terasa lemas. Pikiranku sudah tidak karuan rasanya. Bahkan air matapun sampai tak mampu menetes karena pedihnya duka yang aku rasakan. Benci. Itulah rasa yang mendominasi perasaanku kala itu. Benci terhadap diriku sendiri yang mampu melakukan hal konyol sampai bisa terjadi hal yang seperti ini. Saat itu juga aku pergi kerumah Mala bersama Taufik. Saat pertama kali Taufik mengerti tentang hasil tespacknya dia juga tidak kalah terpukul sama seperti aku.
“Maafkan aku syg.. Padahal selama ini aku sudah berhati – hati.” Ucap Taufik dengan bersungguh – sungguh.
“Itu kan ‘berhati – hati’ versi kamu. Bagaimanapun juga aku perempuan normal yang telah matang. Apapun bisa terjadi.” Tak kuasa aku menahan tangis.
“Kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak mau pernikahan itu sekarang. Aku serius denganmu tapi bukan berarti aku mau menikah dini. Kita masih SMA. Belum mempunyai apa – apa. Bagaimanapun caranya kita harus membuang apa yang ada di dalam perutmu yang seharusnya tidak tercipta sekarang itu.”
“Apa yang harus kita lakukan?” Tangisku pecah.
“Kita bisa meminta bantuan Mala. Aku harap dia bisa mencari jalan keluar dari permasalahan ini.

            Dengan bantuan Mala, aku berhasil mendapatkan obat itu. Mala mengaku mempunyai seorang teman yang bekerja di bidang kesehatan dan tahu menahu mengenai menggugurkan kandungan. Sampai saat ini, saat mendengar kata itu hatiku selalu miris dibuatnya. Faktor apa yang membuat aku tega melakukan hal yang demikian. Tetapi waktu itu banyak alasan lain yang lebih kuat sehingga aku tega melakukannya. Dengan dibantu Mala dan tentu saja Taufik. Aku mulai meminum obat tersebut.

***

            Hari itu, 21 hari sudah umurku. Aku sudah membelah menjadi ratusan dan akan menempel pada dinding rahim. Namaku kini menjadi Blastosit. Saat itu juga aku merasa ada sesuatu benda asing yang mulai menggelitik keberadaanku. Rupanya Ia tidak ingin aku berada di sini. Setiap jam aku selalu berdo’a kepada Allah agar diberi kekuatan kepadaku dan kepada Ibundaku. Yang aku rasakan bukan lagi kekurangan nutrisi seperti sebelum – sebelumnya. Akhir – akhir ini aku merasa mendapat nutrisi yang salah dari Ibundaku. Aku sering diberi makanan yang banyak mengandung zat entah apa itu, yang jelas aku merasa terganggu sekali, seakan tempat tinggalku kini tidak menghendaki keberadaanku disini. Aku merasa seolah ada seribu tangan yang berusaha mendorongku keluar, pergi dari tempat ini.
            Namun kali ini berbeda, aku merasa kali ini kekuatan yang berusaha mengusirku datang lebih dahsyat, dorongan kali ini aku rasakan seratus kali lebih kuat dari sebelumnya.
     “Tuhan..kuatkanlah aku. Aku berlindung dan sekali lagi berharap pertolonganmu, sama seperti saat itu, saat aku tak berdaya dan hampir tak punya asa, namun saat itu kau kuatkan aku hingga aku kau antar sebagai pemenang. Pemenang dalam adu cepat kala itu.” Sebait do’a yang sama, yang menjadi sandaran harapanku. Akankah kali ini aku yang mampu bertahan seperti saat itu?
            Aku tahu Ibundaku pada saat ini telah mencapai pada puncak keputusannya. Hingga dia membulatkan tekad dengan meminum obat laknat itu.
            Ibu..tak sayangkah engkau padaku? Benarkah Ibu membenciku? Ibu.. aku tak berdaya, aku begitu lemah dan aku tak mampu lagi bertahan. Aku pasrah pada keinginanmu yang tak menghendaki kehadiranku.
Aku pergi bu..
     Dan kulepaskan ikatanku dari rahim Ibundaku, aku hanyut dan larut, terlempar dari tempatku meringkuk selama ini.

***

“Syg.. aku udah negatif.” Pekikku kepada Taufik saat melihat satu garis merah di ujung tespack.
            Taufik memelukku. Aku bahagia karena masa depanku tidak jadi hancur. Dibalik kebahagiaan yang bergejolak dibenakku, aku merasakan ada sesuatu yang telah hilang dan terenggut dariku, meninggalkan sebongkah ganjalan yang tak mau hilang. Namun apa itu?
     Persetan! Peduli amat! Yang penting bagiku saat ini adalah aku terbebas dari belenggu mimpi buruk yang tak pernah kuharapkan.
***

            Setelah selesai sholat tarawih dan tadarus, kami para santri Pondok Gontor putri kembali ke kamar untuk beristirahat. Dengan langkah gontai aku kembali ke kamarku. Aku kangen Ibuk yang ada di Kediri.
     “Hei..kalau jalan dilihat. Jangan sambil melamun.” Heni membuyarkan lamunanku.
     “Ah, kamu ini Hen. Mengagetkanku saja.”
“Lomba ngisi TTS sama anak – anak kayak kemarin malam lagi yuk. Pasti seru deh.. aku belum ngantuk soalnya.” Pinta Heni
“Siapa takut? Ayo!” Jawabku bersemangat.

            Disinilah aku sekarang. Tempatku menimba ilmu agama. Tempat yang dulunya aku anggap sebagai tampungan orang – orang dengan 1001 kegiatan dan peraturannya. Sejak kejadian suram yang kulalui 3 bulan silam, aku memutuskan untuk belajar di pondok sambil melanjutkan kuliah. Awal kehidupanku di pondok, disambut dengan bulan Ramadhan. Bagiku menjalani kesibukan dengan melakukan kegiatan bermanfaat mulai dari pagi buta sampai menjelang tengah malam jauh lebih bermanfaat daripada tidak ada kesibukan tetapi malah mendatangkan dosa. Seakan aku menapaki jalan terjal yang nantinya akan berujung pada sebuah sinar untuk jalan menuju surgaNya.
            Ramadhan kali ini sungguh berbeda. Mungkin dulu kalau puasa sering asal – asalan. Yang penting menahan lapar. Namun tidak untuk sekarang. Berkat bimbingan para ustadzah yang selalu sabar dan setia, aku bisa mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam sujudku di sepertiga malam dan disetiap shalatku, selalu kulantunkan do’a dan kupanjatkan ampunan semoga kesalahan – kesalahanku yang dulu diberi pengampunan. Bagiku, ramadhan adalah saat yang tepat sebagai sarana untuk penghapusan dosa. Bukankah Allah Maha Pengampun? Menyambut sepuluh malam terakhir di bulan ramdhan, aku mencoba melakukan amal shalih sebanyak – banyaknya dengan shalat, berdzikir dan bershadaqah agar bisa mendapatkan malam lailatul qadar, suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
            Pandanganku menerawang jauh ke langit malam yang bertaburkan banyak bintang. Terkadang aku berharap bisa melihat wajah Taufik di salah satu bintang dan mengatakan kalau aku baik – baik saja. Tidak pernah ada kata putus diantara kami. Mungkin sekarang kita bukan lagi dalam naungan pacaran, tetapi itu lebih baik karena pacaran banyak mendatangkan mudharatnya daripada manfaatnya. Aku tertidur di kursi dekat jendela sebelum akhirnya ustadzah membangunkanku untuk sahur.

***

     “Ibundaku.. apapun alasan engkau mengembalikan aku kepada Tuhanku, aku tidak akan pernah membencimu. Akulah Sang Pemenang yang akhirnya kalah. Akan ku sambut engkau di surga kelak bersama orang – orang pilihan. Semoga Ibundaku selalu dalam perlindungan Allah. Amin.”  

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer