Merasa Menang di tengah Kepungan Perasaan Kalah

 

Ajari aku cara untuk membencimu. Kalimat klise yang sekarang sedang mati - matian aku lakukan. Komunikasi intens dan beberapa kali pertemuan kita dalam sebulan terakhir mampu membuat hatiku seakan berada di atas roller coaster. Ibarat kata berjalan di kebun bunga, awalnya mataku dimanjakan oleh keindahan dan kebahagiaan. Sampai pada aku berada di pintu keluar taman bunga dengan duri di tangan yang terpegang tak terlihat. 

Tak ada satu pun orang yang bisa ku salahkan atas rasa sedih yang sengaja ku buat sendiri. Pun tak ada seorang pun yang bisa ku bagi untuk meringankannya. Pedih memang. Merasa menang ditengah kepungan perasaan kalah di hati. Minimal aku telah membuktikan bahwa lelaki gentlemen mampu membuat keputusan besar. Meskipun caranya mungkin saja mengiris hati orang lain.

Tanpa balasan chat darimu, aku sudah sangat paham bagaimana perasaanmu saat ini. Keheningan yang tiba - tiba kau rasa setelah riuhnya perasaan kita berdua. Kalau boleh meminta, aku tak menginginkan ada air mata yang sengaja kau jatuhkan untukku.  Tapi atas dasar apa aku menuntutnya demikian. Pesannya saja sengaja ku gantung menyisakan tanda tanya. Jelas saja itu akan menyisakan air mata untukmu. 

Jika saja kamu tahu, genggaman tanganku di atas motor malam itu tersiratkan makna mendalam yang aku yakin kamupun tak akan terfikirkan. Aku tahu bukan karena paras saja aku bisa sejatuh ini padamu. Tapi bagaimana kamu memperlakukanku yang tak kutemui pada siapapun. Karena alasan itulah aku merasakan bahagia berkali - kali lipat daripada yang kau rasakan meskipun jarang ku lontarkan kepadamu lewat perkataan. 

Yang menjadi runyam saat ini adalah ketika kebahagiaan itu harus beradu dengan kenyataan. Bahwa perasaan kita harusnya tak tumbuh hari ini. Disaat ada hati yang harus dijaga masing - masing oleh kita. Perasaan ini harusnya sudah tumbuh sejak di dalam kelas 12. Sejak seharusnya aku berani mengungkapkan tawaran untuk mengantarkanmu pulang sekolah. Sejak seharusnya aku berani menyisipkan kertas kecil bertuliskan I Love You di buku tulismu. Sejak seharusnya aku tak berpura - pura membuang muka demi tak terlihat luapan nerveousku ke kamu.

Perasaan tak bisa disalahkan, sampai empat tahun kemudian aku baru berani mengungkapkannya. Kepadamu. Yang ternyata kekhawatiranku sebagai seorang anak remaja belia kala itu tak selamanya benar. Aku takut ditolak bahkan sebelum berani berkata. Sampai pada akhirnya satu bulan yang lalu, di awal komunikasi intens kita, aku baru mendapati hal yang bahkan sudah ku harapkan sejak kita duduk di kelas yang sama. Kamu menyambut uluran tanganku sembari menjawab "I love you too". Tepat di hadapanku namun dengan suasana yang berbeda. Pada malam sepulang aku lembur kerja, bukan lagi sore hari ketika kita baru pulang les ujian UN. Yang mana ungkapan dariku sudah bisa dibilang basi, tertahan bertahun - tahun.

Meskipun perasaan tak bisa disalahkan, disinilah aku sekarang. Kita berdua hanya berdiri di persimpangan yang salah. Boleh saja aku terbuai oleh cinta membara, tapi saat ini bukan lagi masa SMA. Aku berdiri empat tahun setelah masa itu. Jawaban 'I love you too' yang keluar dari mulutmu harus diakhiri dengan tanda titik. Aku menghargai lelaki yang telah kau pilih.

Komentar

Postingan Populer