Semu
Pepohonan berkejaran dilihat dari atas bus yang melaju kencang di jalan tol. Angin mengepakkan daun-daunnya, menjatuhkannya sebagian. Apik dilihat ketika warnanya beranekaragam, kuning dan hijau. Pandanganku ku alihkan pada deretan gunung dan bukit di sebelah kanan. Jalan tol Malang - Pasuruan memang menyuguhkan pemandangan yang tak pernah gagal. Cukup menghibur raga yang sudah seharian lelah bekerja. Pulang ke kampung halaman kali ini memang sengaja aku memilih untuk naik bus. Berbeda dari biasanya yang menaiki motor. Selain karena durasi pulangnya lebih pendek, kali ini aku lebih memilih perjalanan malam hari. Meskipun sebenarnya alasannya bukan itu saja.
Aku terbangun ketika bus sudah memasuki terminal Probolinggo. Ku tengok ruang tunggu di dekat pemberhentian bus dengan tulisan 'Jurusan Jember - Surabaya'. Berharap ada sesosok perempuan yang sedang duduk di sana. Terkadang bahkan sengaja aku pamit ke kamar mandi sebentar ke kernet ketika bus berhenti sejenak. Meskipun kadang bohong tujuanku bukan toilet, melainkan ruang tunggu. Aku selalu meluangkan waktu untuk mencari sosokmu di terminal ini, tapi aku pula ternyata yang tak mempunyai jawaban kenapa aku melakukannya.
Aku kerap berterima kasih kepada semesta ketika kenangan tentangmu lama menghilang dari ingatan. Tapi kenapa hati ini sulit terbuka untuk menerima perempuan baru. Setidaknya wajahku ini tak jelek - jelek amat menurut teman-temanku. Kalau saja bisa, sudah ku iyakan penawaran perkenalan kemarin tanpa harus berbohong dengan mengatakan, "Gak dulu deh, aku masih nunggu seseorang."
Lantas menunggu apa yang ku maksud? Menunggu dengan berharap bertemu di terminal yang bahkan berkomunikasi pun tidak? Menunggu dengan mengabaikan pesannya yang bahkan hanya mengomentari statusmu? Atau menunggu lelaki dipinang oleh perempuan duluan? Bahkan membayangkannya pun berasa hakikatku sebagai lelaki sudah tak ada sama sekali.
Memang, aku tau, perasaan ini sudah lama muncul. Dan selama bertahun - tahun pula ku jaga. Sendirian. Tapi nyatanya semua perasaan tak harus terbalaskan, meskipun terdengar sangat naif. Perempuan yang awet berkelebat dalam bayang - bayang sudah terikat hatinya dengan lelaki lain. Bisa dibilang juga sebenarnya aku keduluan lelaki itu. Terlalu banyak kekhawatiran kalau cintaku tak tersambut olehnya, begitu kira - kira gambarannya. Sampai - sampai aku harus menelan kenyataan ketika melihatnya digandeng oleh lelaki lain. Namun sialnya, justru perasaanku kepadanya tak pernah padam sampai saat ini.
Komentar
Posting Komentar