Angan Denganmu

Duduk berdua di emperan angkringan, sambil menatap citylight, berdampingan denganmu dengan kopi susu di tangan yang sudah mulai dingin. Aktivitas sederhana tetapi hanya ada di anganku sejak dulu.

Kenyataannya, ketika aku mampir di kota tempatmu bekerja, hanya jalanan sepi yang ku lalui. Sepi di anganku. Karena aku hanya bisa menatap jalanan yang mengarah ke kosanmu. Hatiku riuh, rindu. Tapi senyum harus terpancar demi membohongi perasaan agar kawan yang sedang berboncengan denganku saat ini tak mempertanyakannya.

"Batu sekarang gak perlu weekend buat rame. Weekday pun macet." gerutu Winda. Sejak naik ke arah Kota Batu, memang beberapa kali motor kita harus berjubel dengan bus dan mobil wisatawan. Jawaban singkat, "Sudah, nikmati saja. Minimal kita macet-macetan sambil ngerasain hawa dingin. Gak bau asap pabrik kaya di Gresik." yang ku tahu gak akan memuaskan Winda. Ku tahu betul, sahabatku, si perempuan berbadan gendut ini sangat sebal macet. Bikin gerah katanya.

Yang justru sangat berbanding terbalik denganku perihal kemacetan di Kota Batu ini. Bukan hawa dingin yang ku nikmati, tetapi di sepanjang perjalanan aku bisa berkelana dengan pikiran dan perasaanku. Melihat kedai susu jahe di pinggir jalan yang pernah muncul di status whatsappmu. Bianglala di alun - alun Kota Batu yang pernah kamu ceritakan di room percakapan kita. Aku ingat betul topik itu muncul ketika aku bilang bahwa aku sangat suka melihat kota dari ketinggian.

Rencana perjalananku ke Kota Batu dengan sahabatku ini terbilang cukup mendadak. Libur sehari di tengah - tengah minggu seolah tak ingin kita lewatkan dengan hanya bermalas - malasan di kosan. "Ya kali kita udah kerja lembur tiap hari juga butuh refresing lah." begitu ungkap Winda sampai akhirnya kita memilih Kota Batu buat didatangi. Padahal memang kita aja yang milih lembur karena dua jombloist ini kesepian.

Berbekal motor dan berboncengan, 3 jam berhasil kita tebas sampai akhirnya malam - malam kita sudah berada di tengah dinginnya Kota Batu. Dan bermacet - macetan sampai Winda menggerutu. Aku menikmati ocehannya karena aku tahu dia sebenernya bahagia bisa meluangkan waktu sejenak di tengah kepadatan kerjaan kita sehari - hari.

Kembali aku menatap jalanan, terlihat plang jalan yang namanya sangat familiar buatku. Hei, aku berada di dekatmu.

Perasaan ini tetap bertahan sendirian. Bertahun - tahun. Tanpa ada balas darimu. Meskipun aku pernah tahu cintamu pernah berhenti di aku. Tapi kamu tidak pernah membicarakannya lagi. Sampai dengan saat ini. Biarkan aku menjaganya sampai lapuk.

Winda berhasil mendaratkan motor kita di depan penginapan. Aku menarik nafas panjang. Berharap bisa menikmati kota ini 24 jam ke depan tanpa bayang - bayangmu. "Yuk Win, kita menuju resepsionis."  

 

 

 

Komentar

Postingan Populer