Membiarkanku Sendiri
Tarikan gas motor coba ku pelankan ketika perjalananku masuk kota Surabaya. Kendaraan berjejal. Macet. Herannya jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam Tapi aktivitas manusia tak ada habisnya. Entahlah.
Sedangkan helmku tak hentinya diketuk berkali-kali oleh helm orang di boncenganku. Rupanya perjalanan malam yang memakan waktu dua jam membuat kantuknya menyerang. Berkali - kali pula ku ingatkan dia untuk mengencangkan pegangan. Meskipun dengan geli, ku teriaki ia dari balik maskerku, he bro pegangan, hati-hati nanti jatuh. Yang pada akhirnya ku ikhlaskan pingganggku dipegangi olehnya.
Mulai terlihat tambak ikan di kiri kanan jalan, tandanya pula tujuan sudah mendekat. Raga yang seharian sudah berkutat dengan pekerjaan, masih dilanjut mengemudi motor sejauh 100km, meraung ingin direbahkan.
Ku lirik papan reklame hijau penunjuk jalan. Terpampang nama Margomulyo. Terlihat di bawahnya tulisan Kota Gresik. Nafasku mendesah, Hei Din..aku sekarang dekat dengan tempatmu.
Samar coba ku terka, dari kebiasaanmu yang tak pernah bisa begadang, bisa dipastikan saat ini kamu sudah terlelap. Rupanya tak sia-sia aku sering menengok statusmu di whatsapp. Minimal aku bisa menerka aktivitasmu, meskipun tak pernah ada temu.
Terlalu naif memang. Dari pesan beberapa minggu lalu yang sengaja ku gantung, aku paham benar, Aku lebih memilih menyembunyikannya. Setidaknya itulah yang terbaik saat ini menurutku. Biarkan aku yang terlihat cuek dan jahat. Agar alur hidupmu tak terusik.
Meskipun ketikaku mendengar kabar bahwa kau pindah di Gresik sekarang. Tak ada satupun angan untukku menjadikan jarak yang semakin mendekat ini menjadi temu. Denganku berada di Surabaya setiap akhir pekan, tak juga diberkahi semesta untuk menjadikan ini kesempatan pertemuan kita. Aku terlalu naif.
Memoriku terlempar pada momen beberapa waktu yang lalu. Sempat beberapa kawan menyodorkan foto wanita. Terlihat cantik. Memakai kerudung dengan make up tipis. Sangat sesuai kriteriaku. Saat mereka mencoba mengirimiku kontak telepon wanita tersebut, justru yang keluar dari mulutku adalah, Maaf bro, bukannya gak mau. Tapi lagi ada hati yang sedang ku jaga saat ini.
Hah, tak juga aku sadar. Kalimat itu hanya pantas untuk sepasang kekasih yang saling tahu kalau mereka mencinta. Atau berlaku untuk sepasang kekasih yang mungkin sedang menjalin hubungan jarak jauh. Sementara aku? Hanya bayang - bayang di belakang wanita yang sudah diikat hatinya oleh lelaki lain. Bisa - bisanya aku melabeli diriku sedang menjaga hatinya.
Ya, wanita tersebut adalah yang tadi kataku sudah tidur di jam 10 malam. Wanita yang pesannya ku gantung beberapa minggu yang lalu. Wanita yang saat ini hanya berjarak tak lebih dari 20 km dari tempatku menjejakkan kaki. Dan wanita yang hatinya sudah diikat oleh lelaki lain.
...
Jam menunjukkan hampir tengah malam ketikaku menarik ujung selimut, bersiap untuk terlelap sebelum besok ada meeting pagi hari. Satu setengah jam yang lalu, setibanya di mess, aku bergegas mandi dan menyantap makan malam yang sudah terlalu larut. Kemudian sisanya kuhabiskan berbincang dengan kawan yang ditempatkan di kantor pusat ini.
Untuk kawanku yang tadi di boncengan sudah terkantuk - kantuk, jangan ditanya. Setibanya di mess, setelah bersih diri, langsung direbahkan tubuhnya di kasur dan terlelap. Kantorku memang terpusat di Surabaya, namun karena penempatanku di Batu, aku masih berkewajiban melakukan meeting rutin divisiku minimal dua kali dalam satu bulan.
Ku sempatkan mengecek HP, mengarah ke aplikasi Whatsapp, ku buka menu Status dan kuketik namamu. Tak ada postingan status terbaru. Masih terlihat postinganmu dua belas jam yang lalu. Terlihat foto laptop dan tumpukan kertas dengan background ruangan perpustakaan. Kerjaan akhir pekan, itu yang kau tuliskan di caption.
Urung mengetik di room chat. Bahkan untuk sekedar mengomentari statusnya. Paling juga dia sudah terlalu sibuk membalas pesan kekasihnya. Satu dari ribuan isi pikiranku ketika aku mencoba ingin menyapamu. Meskipun di satu sisi aku juga sebenarnya tahu kalau hubunganmu sudah begitu rapuh. Lelah mempertahankan bahterai. Bahkan nyaris tenggelam.
Dengan begitu apakah aku harus bahagia? Yang mana aku pun tak tahu hatimu akan kamu jatuhkan kepadaku atau tidak nantinya. Kubiarkan mataku terlelap, berharap bisa bertemu di mimpi.
Komentar
Posting Komentar