Menghapusmu Merupakan Sebuah Keniscayaan
Untuk berharap bisa tahu kabarnya saja aku tak berani. Apalagi bisa bersamamu, melihatmu, bahkan menggenggam tanganmu. Kalau saja aku tak berani berharap, lantas darimana aku bisa tahu kabarmu lagi? Sekedar untuk mengobati perasaan rindu. Dan harapku.
Entah mengapa, engkau hadir selalu dibarengi dengan jemariku ketika membuka memori. Eh tidak juga. Kala itu kau hadir setelah kesalahan yang ku lakukan dengan memutuskan untuk mengomentari statusmu. Namun kali ini kau hadir ketikaku membuka album fotoku di laptop. Yang bahkan bukan tentangmu. Sialnya, ada satu fotomu yang pernah kamu kirimkan kepadaku beberapa tahun silam diantara berates-ratus foto lainnya di album tersebut.
“Lagi kunjungan ke customer.” katamu kala itu berbentuk pesan teks whatsapp. Yang masih sangat teringat jelas.
Lalu foto selanjutnya terlihat satu mangkok mi ayam. Ketikamu makan siang waktu itu, itu juga yang kamu kata melalui pesan teks whatsapp.
Aku tersenyum simpul, kecut. Rindu tau!
Aku bahkan lupa kita dulu pernah seakrab ini.
Aku sudah lupa balasanku bagaimana waktu kamu kirimi dua foto tersebut. Tapi bisa ku pastikan keadaan hatiku saat itu sangat bergemuruh. Namun yang tak bisa ku pastikan adalah waktu itu kamu mengirimiku foto sekedar dengan jemari atau berniat mengabariku dengan hati.
Kursor ku arahkan ke foto selanjutnya. Namun urung. Coba ku copy fotomu ke folder yang terhubung dengan handphoneku. Sepersekian detik ku tunggu, tiba-tiba layar laptop hank.
Pfft.. “Ayo dong nyala.”
Sepersekian detik selanjutnya masih juga tak ada tanda-tanda kursor tak bisa digerakkan. Sampai akhirnya layar laptopku mati. “Alahh..”
Kemudian fikiranku tersadarkan memang tujuanku membuka laptop ialah mengecek masih bisa dioperasikan apa tidak. Melihat fotomu hanya bonus saja. Tapi tidak dengan perasaanku yang sudah terlanjur mengingat tentangmu.
Selalu saja, untuk mengembalikan perasaanku, biasanya aku memutar lagu. Yang menurutku merepresentatifkan tentang kita. Bukan, bukan, lagu tentangmu. Karena aku dan kamu tidak pernah menjadi kita.
Musik mengalun, dari intronya saja berhasil mengubah atmosfer tentangmu. Bahkan aroma tubuhmu yang kian lama kian pudar dalam ingatan. Meskipun kenyataannya aku sekarang lagi duduk sendirian di atas Kasur dengan laptop di pangkuan kaki yang mana jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.17. Hampir tengah malam.
Lagi ku ingat foto yang barusaja ku buka dengan kondisi laptop yang sudah tertutup. Jaket merah dan buff yang ditaruh di leher. Senyum tipis tapi justru itulah yang melekat.
Musik selesai, tapi bayanganmu dari pikiranku belum juga usai. Ku coba pejamkan mata, mengundang kantuk. Berharap bertemu denganmu dalam mimpi.
Komentar
Posting Komentar