Ku Kira Kau akan Datang (Lagi)
Juni, 2017...
♫ Ku pejamkan mata ini mencoba tuk melupakan, segala kenangan yang indah tentang dirimu.
Kalau fikiran warasku sedang bekerja, tak seharusnya aku masih menunggu chat darinya. Sudah sejak semalam setelah kau menggenggam tanganku, rupanya perkataanmu sampai membuatku susah tidur. Tak cukup berhenti pagi harinya, bahkan masih berlanjut siang sampai sore ini aku bergelayutan di ayunan depan rumah.
...
Sungguh tak seorang pun mengira serancu apa hatiku saat ini. Bahkan satu dua kawan yang pernah ku bagi kisahnya tak akan menduga. "Waktumu terlalu banyak untuk memikirkan dia, tak seharusnya". Jawaban klise yang kerab dilontarkan temanku ketika aku mencoba menceritakan apa yang ku rasa. Tak apa, minimal dia tidak menghakimi.
Lalu aku menimpali dengan kata-kata yang aku yakin temanku juga sudah sangat sering mendengarnya. "Namanya perasaan gak bisa disalahkan."
...
Duduk termenung di ayunan dengan fikiran berjalan kemana-mana berakhir dengan ajakan jalan-jalan sore. Untuk membunuh waktu menunggu malam, batinku. Ku fikir akan mengobati rasa kalutku. Sejak semalam kau menggenggam tanganku, berat aku mengangguk menyetujui perkataanmu. "Untuk sementara saja sampai malam nanti aku kembali lagi."
Ternyata sampai jalan-jalan sore usai dan matahari tergelincir tak lagi menerangi bumi, ku lihat notifikasi di layar Handphone. Kau belum juga kembali menghubungiku. Membaca ulang chatmu di barisan atas membuat hatiku semakin teriris, perih. Namun rindu. Terlihat ucapan selamat tidur diiringi dengan kalimat pamit diakhiri dua emoticon love, ku terima pukul 22.00. Yang berarti sudah hampir 24 jam room chat kita kosong.
Kedua kalinya kuurungkan mengirim pesan kepadamu. Memberanikan diri. Tapi lagi-lagi teringat kata-katamu semalam ketika menggenggam tanganku, "Sementara saja, tunggu aku malam nanti kembali lagi." Hingga malam datang kau belum juga menepati janjimu kau akan kembali lagi.
Kantuk yang mulai menyergap sementara mata tak ingin terpejam. Hingga pertahanan runtuh. Satu chat terkirim, lama ku menunggu balasan, tak seperti kau biasanya.
"Sepertinya kita harus mengakhiri ini semua. Dia tahu."
Bukan lagi teriris, sekarang luluh lantak. Tak hanya aku yang merasakan, tapi kita. Perasaan tak bisa disalahkan, ucapku lirih. Air mata mulai mengalir di pipi.
Komentar
Posting Komentar