Berteman dengan Malam yang Telah Sempurna Pekat

Juni, 2021...




Di Bawah Gerimis
- Disa Yulistian -




Entah komando apa yang menggerakkan memoriku malam itu. Segala kisah terputar kembali. Mulai hal sepele momen ketika kau menggenggam tanganku di lampu merah demi memastikan aku tak apa-apa hanya karena ku bilang sedang tak enak badan. Padahal kala itu kita menyetir motor sendiri-sendiri. Sampai ingatan terlempar pada momen akhirnya kau menjemputku di terminal ketikaku mengunjungimu. Dulu saja, ketika hanya terpisahkan jarak 90 km, tak pernah sampai langkah kaki kita bertemu di terminal ini. Tapi sekarang ketika jarak menjauhkah 200 km, jumpa malah berpihak kepada kita.

Kekhawatiranku tentang kisah dulu masih akrab di pikiran kala perjumpaan kita di terminal pertama kalinya. Khawatir ketika bahagia hanya berakhir pada perjumpaan makan malam di pojok kota seperti bertahun-tahun silam. Khawatir ketika kebahagiaan hanya sebatas sapaan sayang di layar handphone. Tentu di luar itu kita berdua menjelma untuk berlomba menyembunyikan perasaan sayang satu sama lain ketika berhadapan dengan orang. Tak patut kita seperti ini, katamu berulang kali. Berulang kali pula aku mencari pembenaran kalau perasaan sayang tak bisa disalahkan.

Energi malam yang pekat bahkan membawaku kepada memori lain yang lebih banyak. Lama setelah kejadian kau menggenggam tanganku di lampu merah, sering ketika kita berada dalam satu perjumpaan dengan kawan lain tatapan mata kita berdua saling beradu. Menyiratkan banyak makna di lubuk hati tapi hanya sapaan klise yang muncul di mulut, "Lagi sibuk apa sekarang?" Acapkali kita mengabaikan bertanya kabar satu sama lain karena sibuk menyembunyikan perasaan rindu.

Andai saja ku tahu saat itu kau juga merasakan hal yang sama sepertiku. Kau khawatir ketika mungkin aku sedang tak baik-baik saja meski tak pernah berkabar. Atau ketika kau mencoba menerka kabarku dari raut wajahku saat kita berbincang diantara kawan lain.

Lirik lagu yang selalu ku ingat yang sering kau nyanyikan,

♫ Mungkinkah masih ada waktu
Yang tersisa untukku
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu
Andaikan saja aku tahu
Kau tak hadirkan cintamu
Inginku melepasmu dengan pelukan..



Khawatir dan harap telah punah berganti dengan putus asa. Hanya tersisa harapan menunggu kesempatan bertemu di ujung harap untuk sekedar bilang, "Sudah ya, kita tak akan mungkin bisa bersatu. Kita harus melanjutkan kehidupan masing-masing dengan menjaga hati yang sudah ada." Tapi tidak, kata-kata tersebut terlalu dramatis. Aku hanya berharap kita diberikan kesempatan bertemu untuk saling mengakui perasaan cinta kita yang selama ini terpendam. Agar hatiku bisa lega.

Tapi ternyata, kedatanganmu menjemputku di terminal kala itu bukan perjumpaan untuk pengakuan yang terakhir kalinya. Tak sampai pada pikiranku skenario apa yang Tuhan hadirkan untuk aku dan kamu. Kau mencoba meyakinkan bahwa sekarang dan seterusnya bisa mengajakku berbincang dengan panggilan sayang, tak hanya melalui layar telepon. "Karena saat ini semua orang boleh tahu." katamu. Boleh juga sesukaku mengajak makan malam di seluruh penjuru kota tanpa memilih restoran yang berada jauh dari keramaian. "Tak ada yang lebih penting untuk dijaga hatinya kecuali kamu." itu katamu juga.

Rintik hujan mulai turun ketika kita melintasi pintu keluar terminal. "Jadi, kapan kamu mau mengatakan kepada orang tuamu niatku ingin melamarmu?" Suaramu beradu dengan hujan yang semakin deras namun terdengar sangat jelas sampai ke perasaan paling dalam.

Komentar

Postingan Populer