Trailer Bagian IV......
Trailer Bagian IV......
Pernah suatu ketika di tengah obrolan kita, aku
bertanya padamu, “Kalau ternyata kita tidak ditakdirkan berjodoh seperti sekarang,
kira-kira rasanya bisa sebahagia sekarang gak ya?”
Jawabmu
kala itu, “Ya tetep bahagia, karena berarti bahagiamu bukan aku.” Ingin menyergah
jawabnya namun ku urungkan. Ku tatap matanya. Benar ketika ada orang yang
mengatakan kalau Bahasa tubuh bisa menggambarkan segalanya. Ada rasa sayang
yang begitu besar terpancar dari sorotan matanya. Untukku. Lalu kutanyai lagi
dia, “Trus kenapa bisa sedrastis ini sayang ke aku? Bukannya dari dulu selalu
secuek itu padaku?”.
“Kan dulu
cueknya pura-pura.”
Ku pandanginya,
lagi. Dia tersadar, mengalihkan pandangan dari Handphone lalu
menatapku dan tersenyum.
Hey, I
love You.
Hobi
baruku ketika aku berubah seperti detektif. Menghujanimu pertanyaan yang bahkan
tak berbobot sekalipun. Akan tersenyum ketika jawaban yang terlontar mengandung
cinta. Atau akan berubah tawa ketika jawaban disertai olok-olok untukku.
“Aku
jangan-jangan kamu kasih guna-guna ini ya kok bisa sesayang ini sama kamu.” Ketika
jawaban yang terlontar demikian, bukan tersenyum atau tertawa. Ada gejolak
dalam hati yang tak mampu ku uraikan bagaimana rasanya. Tak mudah membuatmu
sampai sejatuh cinta ini kepadaku.
***
“Kok bisa
aku sesayang ini loh sama kamu.” Ketika ku lontari pertanyaan seperti itu, jawabanmu
selalu, “Iyalah, kamu aku guna-guna biar cinta sama aku.”
Dinar
Asti, perempuan yang tak pernah serius memberikan jawaban ketika ku tanya
demikian. Atau jangan-jangan pertanyaanku yang salah? Atau jangan-jangan
pertanyaan itu jawabannya ada pada diriku sendiri?. Setelah ku fikir-fikir,
bukan kamu saja yang tak bisa menjawab tanyaku. Aku selalu bungkam ketika
berulang kali kau tanya, “Kenapa ya gak dari dulu-dulu kita seperti ini?”
Jawaban
tak serius pun ampuh sebagai senjata, yang malah sukses membuatmu terbahak. “Kalau
dari dulu kita kayak gini, aku gak akan betah sama sikapmu yang dikit-dikit ngambek.
Labil.” Kamu pun akan langsung mengerti kalau jawabanku ini hanya kelakar
belaka. Bonusnya, aku akan melihatmu terbahak dengan tatapan yang membuatku bahagia.
Menatapmu.
Hal yang paling ku sukai sejak pertama aku menemukan ketenangan di dalamnya. Ketika
sekarang aku bisa berlama-lama melakukannya. Tak lagi seperti dulu, ketika
rindu padamu yang malah membuatku semakin pilu. Kau hanya tak tahu saja betapa
kuat aku menahan cintaku selama ini.
Komentar
Posting Komentar