Awal... (III)
Mei, 2021...
Awal...
- Disa Yulistian -
Tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat untuk menjaga ini. Tanpa ikatan. Sampai terkadang rasanya ingin menyudahi saja, membuangnya jauh-jauh. Tapi rupanya perasaan ini tahu jalan pulang. Buktinya, sudah ku tepis berkali-kali masih saja kembali.
- Disa Yulistian -
Tujuh tahun. Bukan waktu yang singkat untuk menjaga ini. Tanpa ikatan. Sampai terkadang rasanya ingin menyudahi saja, membuangnya jauh-jauh. Tapi rupanya perasaan ini tahu jalan pulang. Buktinya, sudah ku tepis berkali-kali masih saja kembali.
---
"Telpon
tidak ya, telpon, tidak, telpon, tidak." Akhirnya ku putuskan memencet
tombol panggilan video. Dua kali berdering, diangkat. Langsung muncul wajahnya,
"DEG". Seketika
riuh terdengar, terlihat beberapa wajah teman lama karena dia menyorotkan
kamera depan.
“Maaf ya kalau suaramu ga kedengeran Yan,
di sini rame banget.” terdengar suaranya. Bersyukur. Setidaknya kegugupanku ketika
meneleponnya tidak terlihat. Dia mengarahkan kameranya ke salah satu teman,
terdengar dia memberitahu bahwa aku sedang menelepon.
Sampai
sepuluh menit ke depan obrolan masih seputar mengenang masa-masa SMA dulu
dengan diselingi beberapa pertanyaan sama yang ditujukan ke aku. Eh, Yanuar,
kenapa kamu ga pulang? Jadi ga bisa ikutan reuni tahun ini kan. Beberapa kali handphonenya berpindah satu
teman ke teman lain, demi aku bisa mengobrol dengan mereka.
“Din, hadapin ke wajahmu dong, trus aku
suruh liat siapa kalau gini?” kamera segera menyorot wajahnya. Tersenyum. Aku
kangen kamu.
*
Lagi. Kali ini, sekuat apapun tak
mampu ku tepis. Rindu. Sampai kapan aku harus bersikap cuek ketika balas
pesannya. Sampai kapan aku harus berusaha membuat dia benci kepadaku. Semakin aku
berusaha menjauhinya semakin perasaan sayang itu menyeruak. Kalau saja dia tahu
perasaanku lebih rumit daripada yang dia rasakan terhadapku. Tapi aku tak tahu
harus bersikap bagaimana kepadamu.
Ku tengok kalender di atas meja, satu
minggu lagi reuni SMA. Berganti ku pandangi fotonya di sosial media. Sudah tiga
tahun tak bertemu. Menghubunginya satu minggu sebelum reuni ku rasa tepat untuk
menanyainya akan datang atau tidak, menurutku. Tapi ternyata niatku mengirim
pesan kepadanya adalah keputusan yang salah. Aku bahkan harus menunggu berjam-jam
untuk menerima balasan darinya. Bahkan aku terlalu naif untuk memulai percakapan
dengannya walau di sosial media. Ku putuskan untuk menunggu sampai dia membuat
postingan agar bisa ku komentari.
Me : Liburan terusssss.
10.27
Dinar Asti : Cuma deket
rumah.
16.10
Setelah
empat jam balasannya tiba juga. Singkat. Sengaja tak langsung kutanyai dia
perihal reuni agar percakapan mengalir alami. Untuk balasan kedua dan ketiga pun
masih harus lama ku menunggunya. ‘Maaf ya lagi ada kerjaan’, alasannya. Bahkan aku harus mempertahankan percakapan di platform itu agar terus dibalasnya
dengan segala topik ku tanyakan. Kalau saja kamu tahu, saat ini, rindu itu tiba-tiba
datang. Bahkan belum sempat kutolak kedatangannya. Tapi tak satu katapun ku
ungkapkan kepadamu. Biarlah aku terlihat jahat agar kamu benci padaku. Dengan begitu
aku bisa melupakanmu. Tak harus lagi menahan rindu yang bahkan tak pernah
kuucapkan. Aku tahu, di matamu aku menjadi seseorang yang jauh berbeda dari apa
yang kamu fikirkan tentangku sejak dulu.
Tak
akan pernah terlintas di fikiranmu ketika malam-malam ku habiskan dengan
memikirkanmu. Tak akan kamu tahu saat mimpi-mimpi di tidurku berisi harapku
agar bisa bersamamu. Karena yang terlihat hanya aku yang dingin, aku yang tak
peduli denganmu. Terlalu jahat kalau rinduku ini tiba-tiba terdengar olehmu. Salah ketika kamu berfikir aku tak tahu jika kau rindu. Tetapi kamu lebih berhak
mempertahankan apa yang sudah kamu punya. Biarlah aku. Biarkan
aku memelihara perasaan ini sampai tahu bagaimana cara membuangnya.
Sampai pada satu waktu, aku melihat harapan yang mulai redup perlahan terang.
Harapan-harapan yang sudah lama berusaha ku kubur mulai ku gali kembali.
Merajut kepingan-kepingan kenangan tentangmu yang sebagian sudah ku pecahkan. Sudah siapkah sekarang aku mengungkapkan semua? Saatnya jeritan rindu yang selalu ku tahan dia ketahui. Kepada diriku sendiri aku berkata, tak akan kubiarkan kamu sendiri tanpa ada pundak yang biasanya kau jadikan sandaran. Seperti sekarang. Aku tahu kamu butuh seseorang. Aku tahu kamu rindu. Aku tahu semuanya. Yang tak ku tahu hanya bagaimana cara memulainya denganmu. Hal paling ku takuti terlintas di fikiranku adalah ketika membayangkan di hatimu sudah tak ada lagi namaku. Aku kangen kamu.
---
"Udah hampir tengah malem." ungkapku ketika beberapa kali melihatnya menguap.
"Belum ngantuk Yannn.. kamu mau tidur?"
"Belum sih, tapi kasihan kamu."
Durasi panggilan sudah menunjukkan angka tiga jam lebih. Bukan lagi video call di tengah kerumuman teman-teman yang gaduh. Tidak ada lagi wajah yang dipalingkan dari kamera. Entah. Kali ini tak mampu lagi ku bendung. Pembicaraan kita lebih hangat. Melihat tawamu di depan mata yang selama ini hanya bisa ku tatap dengan topeng. Ku harap keputusanku menelepon sepulangmu reuni tadi tak salah.
Komentar
Posting Komentar