Masih.. dan Akan Tetap Sama (II)
Cerita ini merupakan cerita lanjutan dari cerita sebelumnya yang berjudul "Temaram Senja"
Maret, 2021...
Maret, 2021...
Masih.. dan Akan Tetap Sama
-Disa Yulistian-
---
Lucu. Ketika kudapati
diriku sedang bersimpuh memikirkanmu lagi. Bagaimana tidak? Aku masih terkadang
menangisi hal yang sudah tujuh tahun berlalu. Atau lebih tepatnya konyol. Tapi tidak.
Tidak pernah kudapati pujangga berkata kalau perasaan cinta itu konyol. Yang ada
bodoh.
---
---
Ku
kira mengambil keputusan dengan mengomentari postingan statusnya di
whatsapp, akan berakhir hanya dengan pesan yang tak terbaca dan menjadi angin lalu.
“Ah paling nanti juga aku terlalu sibuk balas pesan temanku, dan tidak terlalu
memikirkan balasan darinya.” pikirku sesaat. Namun nyatanya? Ya, memang begitu.
Hanya ada beberapa potong pesan dan benar saja, berakhir dengan pesan tak
terbaca. Lebih tepatnya dia membiarkan pesan terakhirku tak dibukanya. Rupanya tiga
tahun berlalu setelah perjumpaan kita yang terakhir belum membuat hatiku siap
bahkan hanya untuk menyapanya lewat pesan singkat. Setebal itukah dinding
perasaan ini? Kalaupun bisa, akan ku kikis perlahan agar bisa ku ganti dengan
dinding perasaan dari lelaki lain. Tanpa ku sadari bukan karena aku tak bisa
mengikisnya tapi karena tak mau.
Entah mengapa komposisi teh tarik
dan duduk-duduk di depan jendela sore itu membawa jemariku untuk mengomentari
statusnya. Sudah berulang kali aku menyesali perbuatan hanya karena dua kata, “Halo
Malang” yang kuketikkan padanya lewat whatsapp. Padahal hal biasa ketika aku
melihat status sosmednya wira-wiri di Handphoneku, tanpa aku mengomentarinya
sedikitpun. Aku sedikit menyalahkan hujan yang turun karena dia turut andil
dalam membawa perasaan syahdu sehingga aku mengingat yang lalu-lalu. Atau malah
teh tarik yang mengingatkanku padanya? Aku rasa bukan, karena minuman
favoritnya bukan itu. Ketika kita pergi makan bersama beberapa kali tiga tahun
yang lalu pun dia tak pernah memesan minuman itu. Lantas jemariku digerakkan
siapa? Sampai sini penyesalan akan berulang dan aku tetap mencari hal yang
menggiringku melakukan hal bodoh tadi.
Lantas apa salahnya mengomentari
status whatsapp orang lain? Bukannya fitur itu gunanya memang agar penggunanya
bisa saling sapa. Ya Tuhan, kali ini aku menyalahkan Jan Koum. Biarlah dia
mengurusi 1,5 Miliar pengguna aplikasi perpesanan miliknya dan biarlah
perasaanku ini kuurusi sendiri tanpa melibatkan siapapun. Sering, aku ingin
membuktikan omongan pujangga cinta tentang arti bahagia ketika kau bisa saling
menerima kelebihan dan kekurangan pasangan sampai bisa hidup rukun, katanya. Bagaimana
bisa sampai pada tahap itu kalau saja tujuh tahun ini aku hanya memendam
perasaan terhadapnya tanpa ada jawaban sedikitpun darinya.
Tujuh tahun dengan beribu harapan
menyisakan tanya. Sejak pertama kali menjatuhkan perasaan padanya di bangku
SMA, sampai sekarang aku lelah menunggu perasaan ini lapuk. Mulai aku berharap
bisa menjadi pacar darinya, yang pada saat itu hanya harapan seorang muda-mudi
tentunya. Sampai sekarang aku ingin rasanya bumi menelanku saja saking aku tak bisa menerjemahkan ini
semua. Pertanyaan yang acap kali muncul dari dalam hatiku, “Apakah dia
terkadang juga memikirkanku ya? atau Apakah dia pernah kangen sama aku ya?”.
Tentulah aku bertanya seperti itu bukan tanpa dasar.
Masih teringat jelas intensitas pertemuan kita yang cukup sering tiga tahun lalu. Kala itu hampir rasanya aku menobatkan diriku sendiri sebagai orang terbahagia. Bagaimana tidak? Empat tahun setelah kita lulus SMA, secara tiba-tiba hanya karena dia mengomentari postingan statusku, percakapan kita kala itu berbuntut dengan pertemuan makan malam. Senyumnya yang sudah kurindukan bisa ku nikmati setiap dia datang ke tempatku hampir setiap hari selama satu bulan. Rasa-rasanya tak berlebihan kalau predikat orang terbahagia saat itu ku sandang, kita yang secara tiba-tiba dekat dan terlihat bak sepasang kekasih yang sedang mekar-mekarnya. Sehingga tak ada lagi alasanku untuk bersedih ketika dia bilang bahwa selama ini juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku sejak kita di bangku SMA. Dia juga bilang kerap merasakan rindu dan bingung dengan arti perasaannya padaku yang katanya juga cinta.
Masih teringat jelas intensitas pertemuan kita yang cukup sering tiga tahun lalu. Kala itu hampir rasanya aku menobatkan diriku sendiri sebagai orang terbahagia. Bagaimana tidak? Empat tahun setelah kita lulus SMA, secara tiba-tiba hanya karena dia mengomentari postingan statusku, percakapan kita kala itu berbuntut dengan pertemuan makan malam. Senyumnya yang sudah kurindukan bisa ku nikmati setiap dia datang ke tempatku hampir setiap hari selama satu bulan. Rasa-rasanya tak berlebihan kalau predikat orang terbahagia saat itu ku sandang, kita yang secara tiba-tiba dekat dan terlihat bak sepasang kekasih yang sedang mekar-mekarnya. Sehingga tak ada lagi alasanku untuk bersedih ketika dia bilang bahwa selama ini juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku sejak kita di bangku SMA. Dia juga bilang kerap merasakan rindu dan bingung dengan arti perasaannya padaku yang katanya juga cinta.
Mei, 2017. Ku nobatkan sebagai bulan
terindah yang pernah ku lalui dalam hidup berjejer dengan momen bahagia-bahagia
lainnya. Sampai-sampai, untuk memilih warna jilbab pun akan ku pikirkan
berkali-kali demi terlihat sempurna di hadapannya. Dia pun begitu, akan
berkeluh ketika pekerjaan tak kunjung usai kala malam sudah datang. Atau sekedar
bilang rindu puluhan kali dalam sehari. “Untuk membayar kata rindu selama
bertahun-tahun lalu yang tak sempat ku ucapkan.” katanya.
Kembali lagi dengan kejadian teh
tarik dan duduk-duduk di depan jendela sore itu. Tak mungkin aku melalui Mei
2017 dengan indah yang terus menerus kalau tiga tahun kemudian, atau tepatnya
hari ini aku tetap merasa gundah gulana. Tuhan kala itu terlalu cepat mencabut
predikat orang terbahagia dari diriku. Aku menganggapnya sebagai bukti kuasa agar
aku sadar kalau kesempurnaan dan kebahagiaan yang sebenarnya hanya dimiliki
olehNya. Satu bulan yang hampir biasa ku rasakan selalu mendapat pesan singkat
berisi kebahagiaan darinya, secepat kilat raib. Tak ada lagi senyum yang bisa
ku lihat. Tak ada pula kata-kata sayang dan rindu yang acapkali kudengar darinya. Sampai saat
ini.
Salah
apabila tiga tahun setelah pertemuan terakhir kala itu kuhabiskan dengan
meratapi kesedihan olehmu. Beberapa kali aku mencoba mencintai lelaki yang kumasukkan
ke dalam hatiku agar benteng perasaanku terhadapmu terkikis, seperti kataku
tadi. Beberapa kali pula aku gagal yang berakhir dengan pedoman ,“Aku akan
tetap menjaga perasaan ini untukmu kalau-kalau kau datang suatu saat kelak.”. Terlalu
naïf untuk menunggu hal yang bahkan diriku sendiri saja tak bisa menjamin
sedikitpun akan berakhir bahagia. Prosentase jawabannya bahkan lebih besar akan
berakhir kau yang akan menikah duluan ataupun akhirnya aku akan menemukan
lelaki lain dan memutuskan untuk menikah juga. Sesimpel itu untuk urusan yang
begitu sangat rumit menurutku.
Jangan-jangan memang dia menunggu waktu yang tepat sampai
akhirnya menikahiku.
Pernyataan yang bahkan akan terlihat bodoh untuk orang tak waras sepertiku. Aku
pun bahkan tak pernah menyadari kalau pernyataan tersebut hanya berlaku untuk
dua insan yang saling tahu menahu kalau mereka saling mencintai dan tak bisa
lepas satu sama lain. Dan tak akan berlaku padaku untuk orang yang hanya
memiliki perasaan sayang seorang diri tanpa tahu orang yang disayangi punya
perasaan yang sama atau tidak. Makanya tadi kukatakan, perasaan ini akan
kuurusi sendiri.
Sekarang, dia
sudah melesat jauh dengan kehidupan dan kesibukannya tanpa ada embel-embel atau
sisa namaku di pikirannya. Jelas saja, dia mempertahankan menyimpan nomor
teleponku di Handphonenya hanya karena aku
termasuk salah satu teman SMA-nya. Posisiku sama seperti berpuluh-puluh teman
lainnya di kelas XII IPA 2 dulu. Sama juga seperti beratus-ratus nomor temannya
mulai dari TK sampai rekan kerjanya saat ini. Tak ada alasanku untuk berbangga
diri karena dia masih menyimpan nomorku hingga detik ini.
Biasanya rindu yang kerap kali muncul tak terprediksikan ini
akan ku akhiri dengan lagu yang akan semakin mengingatkanku padanya sampai
seolah-olah aku bisa merasakan kehadiran dia. Tangispun sudah akrab menutup
rasa rindu yang tak sopan muncul hanya karena sapaan tak penting di whatsapp. Dia pun pasti sudah tak memikirkan aku sejak beberapa detik dia
selesai membaca pesan dariku yang terakhir. Yang itu sudah berlalu satu minggu yang
lalu sejak kejadian duduk-duduk di depan jendela dan teh tarik.
---
“Begini nyamannya menghirup udara
kota kelahiran setelah sekian lama meninggalkan.” katanya sambil merebahkan
punggungnya lembut ke kursi.
Sengaja kita memilih tempat duduk dekat jendela agar pemandangan
kota terhampar luas dari ketinggian ini. Sudah banyak perubahan sana sini di tempat makan yang sedang kita singgahi sekarang. Sampai membuatku asing sejak
terakhir kesini bertahun-tahun yang lalu. Aku yang tinggal di kota ini saja
hampir tak pernah mengunjunginya lagi. Bukan tak sempat, ya memang tidak mau
saja.
Ku lihatnya lagi dia yang kini santai menyelonjorkan kakinya
di bawah meja dengan muka memandang ke luar jendela. Ingin ku jawab, menghirup udara kota yang telah lama kau
tinggalkan termasuk aku. Tapi urung. Yang ada hanya, “Sekarang kota ini
udah macet dimana-mana, beda dengan yang dulu.” seperti itulah jawabanku.
Memandangku, ”Hei, kita kesini mau makan loh. Ayo pesan
makanan, sekarang giliranku yang pesan menu aku pesen sama kayak kamu aja Din.”
DEG!!
Desir degupan jantungku meroket mundur ke beberapa tahun silam ketika aku
mengunjungi tempat ini terakhir kalinya dulu bersamamu. Memori otakku tanpa
diperintah langsung memutar detail per detail kejadian di malam itu. Di tempat
ini pula. Aku melihatnya, dia balas melirikku menggoda. “Apakah tatapanku masih
bisa menyihir seorang Dinar Asti? atau sudah lenyap termakan waktu?”. Kali ini
desiran jantung semakin tak karuan rasanya, sontak saja ku jawab, “Masih dan
tetap seperti saat SMA dulu Pak Manajer Yanuar.” jawabku tertawa lepas. Tertawa
lepas setelah dua tahun terakhir tak pernah ku rasakan rasanya sebahagia ini. Bersamaan,
Handphoneku berdering, ada pesan
masuk. Ku lihat di notifikasi layar depan ibu mengirimkan pesan.
Ibu : Kalau bisa pulang cepat ya Nak,
badan Rangga tambah panas. Daritadi nyari mamanya terus.
Ku tatap sekali lagi wajah Yanuar yang masih menyisakan
tawa. Bergantian dengan pesan dari Ibu yang sedang ku balas. Aku menarik nafas
yang panjang, sangat panjang.
Komentar
Posting Komentar